GENDER DALAM PERSFEKTIF KONGHUCU
Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa Kong Hu Cu
selalu menghindari pembicaraan mengenai metafisika, ketuhanan, jiwa, dan
berbagai hal yang ajaib. Namun ia tidak meragukan tentang adanya Tuhan Yang
Maha Esa yang dianut masyarakatnya. Bahkan ia lebih meneguhkan pemujaan
terhadap leluhur, dengan kesetiaan terhadap sanak keluarga dan penghormatan
terhadap orang tua. Ia mengajarkan betapa penting artinya penghormatan dan
ketaatan istri terhadap suami, ataupun rakyat terhadap penguasanya. Menurut
Kong Hu Cu hidup ini ada dua nilai yaitu Yen dan Li. Yen artinya cinta atau
keramahtamahan dalam hubungan dengan seseorang, sedangkan Li artinya
keserangkaian antara perilaku, ibadah, adat istiadat, tata karma dan sopan
santun. Kong Hu Cu mengatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi tempat orang
besar, yaitu kagum terhadap perintah Tuhan, kagum terhadap orang-orang penting,
dan kagum terhadap kata-kata yang bijaksana. Orang yang tidak kagum terhadap
ketiga hal tersebut atau malahan berperilaku tidak sopan dan menghina kata-kata
bijaksana adalah orang-orang yang picik (Lun Yu 16:8). Ia berkeyakinan bahwa
adanya Negara itu tak lain untuk melayani kepentingan rakyat, bukan rakyat
untuk (penguasa) Negara. Maka penguasa pemerintahan harus member contoh suri
tauladan yang moralis terhadap rakyat dan bukan bertindak zalim. Kong Hu Cu
berkata “apa yang kamu tidak suka orang lain berbuat atas dirimu, jangan
lakukan”.emerintah hanya
meletakkan dasar-dasar yang benar. Jika anda memimpin dengan contoh yang benar,
siapa yang berani menggugat anda (Lun Yu 12:17), jika penguasa berbuat benar,
ia akan berpengaruh terhadap rakyat tanpa perintah-perintah, jika penguasa
sendiri berbuat tidak benar, maka semua perintahnya menjadi tidak berguna (Lun
Yu 13:6). Kong Hu Cu mengatakan “Jika penguasa meralat tindakan sendiri, bagi
pemerintah itu soal yang mudah, jika ia tidak meralat tindakannya sendiri,
bagaimana ia dapat meralat orang lain” (Lun Yu 13.13). maka untuk memajukan
rakyat sesuai dengan aturan-aturan Tuhan, bimbinglah rakyat dengan
kebijaksanaan, periksalah atau aturlah mereka dengan sanksi hukuman, maka
rakyat akan berusaha bermukim di luar penjara, tanpa rasa hormat dan rasa malu.
Bimbinglah rakyat dengan kebijaksanaan, periksalah atau aturlah mereka dengan
aturan-aturan kesopanan, maka rakyat akan mempunyai rasa hormat menghormati
(Lun Yu .2.3.).
Pandangan Kong Hu Cu tentang dunia, bahwa dunia itu
dibangun atas dasar moral, jika masyarakat dan negara rusak moralnya, maka
begitu pula tatanan alam menjadi terganggu, terjadilah bahaya peperangan,
banjir, gempa, kemarau panjang, penyakit merajalela dan lainnya. Oleh karenanya
manusia mempunyai tempat terhormat yang tinggi yang harus diberkati dengan
cahaya ketuhanan. Kong Hu Cu mengatakan bahwa “Biukan system yang membuat
manusia itu hebat, melainkan orang-orang yang membuat system itu yang hebat”
(Lun Yu 15:29). Ia percaya
Kong Hu Cu mengatakan bahwa Pbahwa asal manusia itu baik, dan akan kembali ke
sifat yang baik, oleh karenanya tidak diperlukan adanya juru selamat. Yang
perlu bagi manusia adalah adanya guru yang berbudi. Guru yang berbudi akan
berusaha sungguh-sungguh mengajarkan ajarannya serta menjadi contoh teladan
yang baik bagi orang lain. Kong Hu Cu sendiri menyatakan bahwa dirinya adalah
seorang guru yang mendapat petunjuk dari Tuhan. Hal mana sebagaimana
dikemukakan dalam kitab Lun Yu tentang budi luhur antara lain sebagai berikut:
1. Laksanakan apa yang diajarkan, baru kemudian
ajarkan apa yang dilaksanakan (Lun Yu 2:13)
2. Orang yang unggul (cerdas) mengerti apa yang benar.
3. Orang yang unggul (berada) mencintai jiwanya, orang
yang kekurangan mencintai miliknya.
4. Orang atasan selalu ingat bagaimana ia dihukum
karena salahnya, orang rendahan selalu teringat pada hadiah yang diterimanya.
5. Orang atasan akan menyalahkan diri sendiri, orang
rendahan akan menyalahkan orang lain.
6. Orang atasan jika dihargai akan merasa senang
tetapi tidak bangga, orang bawahan itu bangga tetapi tidak dihargai.
Meng Tsu adalah murid Kong Hu Cu yang baik, pandai,
dan bermoral kuat. Menurutnya, orang memiliki sikap perilaku sejak lahir, yaitu
Jen (kebesaran hati), Yi (sifat berbudi), Li (kesopanan), dan Chich
(kebijaksanaan). Jadi jika seseorang jahat, maka sifat itu tidak bawaan sejak
lahir. Dan perasaan malu, haru, sopan, dan hormat merupakan sifat dasar
manusia. Dia jug berkata bahwa rusaknya sifat dasar manusia itu karena hubungan
hidup yang kasar. Dalam hal pemerintahan, Meng Tsu mendukung penuh ajaran
gurunya, Kong Hu Cu, bahwa pemerintahan yang baik itu bukan tanpa
perikemanusiaan, tetapi pada teladan yang baik dari penguasa. Untuk mencapai
pemerintahan yang baik, rakyat perlu diikutsertakan karena rakyat bukan sekedar
dasar dari pemerintahan tapi jug peradilan terakhir bagi
pemerintahan. Sedangkan HsunTse adalah pengajar yang realistic.
Ia tidak percaya terhadap Tien(surga) sebagai pribadi
Tuhan. Menurutnya Tien adalah hukum alam yang tidak berubah. Manusia bukanlah
Tien yang bertanggung jawab atas kehidupannya, ataupun kebahagiaan dan bencana
alam yang dihadapinya. Jadi apabila sandang, pangan, tenaga digunakan
semertinya maka surge tidak akan mendatangkan kemalangan. Jadi dia tidak
percaya pada hal takhayul, ia juga menganggap bahwa sifat dasar manusia itu
adalah jahat, sedangkan kebaikan seseorang itu didapat dari lingkungannya.
“Menurut (mengikuti) sifat-sifat yang benar itulah
jalan suci bagi seorang wanita”. (Mencius III, 2;2) istri yang baik itu
adalah istri yang tunduk dan patuh terhadap printah suaminya, dan istri yang
tidak baik adalah istri yang selalu melanggar perintah suaminya. Jika
seorang istri dapat menuruti perintah suaminya, bukan berarti suami dapat
berbuat sekehendak hatinya, namun suami hendaklah dapat berbuat yang
terbaik untuk istrinya. Bagi khanghucu sebaiknya suami bersikap sebagai
seorang kuncu (manusia budiman) yang dapat menciptakan keharmonisan dalam
rumah tangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar