ISLAM
SADAR GENDER
Di dalam ayat-ayat Al
Qur an maupun hadits nabi yang merupakan sumber ajaran Islam terkandung
nilai-nilai universal yang menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia dulu, kini
dan yang akan datang. Nilai-nilai tersebut antara lain nilai kemanusiaan,
keadilan, kemerdekaan, kesetaraan dsb. Berkaitan dengan nilai keadilan dan
kesetaraan, Islam tidak pernah mentolerir adanya perbedaan dan perlakuan diskriminasi
di antara umat manusia. Berikut ini yang diketahui mengenai kesetaraan gender
dalam Al Qur an.
Gender adalah pandangan
atau keyakinan yang yang dibentuk masyarakat tentang bagaimana seharusnya
seorang perempuan atau laki-laki bertingkahlaku maupun berpikir. Misalnya
pandangan bahwa seorang perempuan ideal harus pandai memasak, pandai merawat
diri, lemah lembut atau keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk yang sensitif,
emosional selalu memakai perasaan. Sebaliknya seorang laki-laki sering dilukiskan
berjiwa pemimpin, pelindung, kepala rumahtangga, rasional dan tegas.
Prinsip-prinsip Kesetaraan Gender
Adapun prinsip-prinsip kesetaraan gender ada di dalam Al Qur an yakni:
- Perempuan dan laki-laki sama sebagai hamba
Surat Adz Dzariat:56, Laki-laki dan perempuan
mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba yang ideal yakni
sebagai orang yang bertaqwa (mutaqqun).
- Perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai khalifah di bumi
Dalam surat Al An am:165 dan Al Baqarah:30
artinya perempuan dan laki-laki mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah
yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tusgas kekhalifahannya di bumi.
- Perempuan dan laki-laki sama-sama menerima perjanjian awal dengan Tuhan
Surat Al A raaf : 172 yakni laki-laki dan
perempuan menyatakan ikrar yang sama akan keberadaan Tuhan, tidak ada diskriminasi
jenis kelamin.
- Hawa dan adam terlibat secara aktif dalam drama kosmis
- Keduanya diciptakan di syurga dan memanfaatkan
fasilitas syurga (Al Baqarah: 35)
- Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama
dari setan (Al A raaf : 20)
- Sama-sama memohon ampun dan diampuni Tuhan (Al
A raaf : 23)
Setelah di bumi keduanya mengembangkan keturunan
dan saling melengkapi dan saling membutuhkan (Al Baqarah: 187)
- Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi meraih prestasi
Surat Al Imran :195, An Nissa: 124, An Nahl : 97,
merupakan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan prestasi
individual dalam bidang spiritual maupun karier profesional yang tidak
didominasi satu jenis kelamin saja.
Bias gender
Karena adanya
implementasi yang salah dari ajaran agama yang disebakan oleh faktor sejarah,
lingkungan budaya dan tradisi yang patriarki di dalam masyarakat, sehingga
menimbulkan sikap dan perilaku individual yang secara turun temurun menentukan
status kaum perempuan dan ketimpangan gender tersebut. Hal inilah yang kemudian
menimbulkan mitos-mitos melalui nilai-nilai dan tafsir ajaran agama mengenai
keunggulan kaum lelaki dan lemahnya kaum perempuan.
Al Qur an tidak mengajarkan diskriminasi antara
laki-laki dan perempuan sebagai manusia. Di hadapan Allah Swt, laki-laki dan
perempuan mempunyai derajat dan
kedudukan yang sama. Oleh karena itu pandangan-pandangan yang banyak
menyudutkan kaum perempuan sudah selayaknya diubah, karena Al Qur an selalu
menyerukan keadilan, keamanan dan ketentraman, mengutamakan kebaikan dan
mencegah kejahatan.
Islam menegaskan bahwa diskriminasi peran dan
relasi gender adalah salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang harus dieliminir
(An Nisaa:75)
KRISTEN
Sadar gender
Di dalam alkitab pada Kejadian 1:27 "Maka Allah menciptakan manusia
itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan
perempuan diciptakan-Nya mereka" disini berarti bahwa Allah menciptakan
manusia baik perempuan dan laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut
gambar Allah, disamping itu juga menekankan bahwa manusia itu sama hakekat
dengan Sang Pencipta. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai
makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi
dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin
dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan "Segambar" dengan Allah ini
yang berarti dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan,
dan keduanya mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan
adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan
perbedaan jenis kelamin.
Jika demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan
dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki
dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah
(Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa
mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam.
Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang,
tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam
ada bersama Hawa. Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain,
perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada
pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa
menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan selanjutnya
peran serta perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan
dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dalam berbagai peran, perempuan selalu
dibatasi.
Kita lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang disriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini". Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).
Lalu bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini ? Saat ini pemikiran bahwa seorang perempuan hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus mulai ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini yang lahir di Jepara 21 April 1879. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita. Kini hal kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran bila melihat ada pejabat di Republik ini diisi oleh kaum perempuan. Contoh paling dekat adalah adanya Presiden, bupati Kapolsek dan sebagainya. Profesi lain yang juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir Busway.
Jadi tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan
mendapatkan posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam
kelengkapan persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan
bahwa harus ada 30 % kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.
Namun demikian, Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan
sebagai Ibu atau Isteri. Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Yesus
dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh mereka kaum perempuan
bukan ingin merubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi
perempuan dan begitupun sebaliknya
Kaum perempuan sejak semula diciptakan untuk menerima tugas mulia sebagai
pemelihara pertumbuhan (keturunan). Peran sebagai ibu adalah hal yang
menakjubkan. Ibu dapat melahirkan dan membesarkan anak-anak. Peran Perempuan
sebagai ibu telah masuk ke dalam "rekan sekerja" dengan Bapa kita di
Surga untuk memberikan kasih dan pendidikan kepada kepada anak-anakNya yang
juga merupakan pewaris kerajaan Surga ini.
Anak-anak yang dikaruniakan adalah berkat dari surga. Dengan demikian
seorang ibu melahirkan umat-umat Allah dan dalam pertumbuhan mereka di dunia
ini, mereka ada dalam tanggung jawab seorang ibu. Bukankah ini tugas mulia?
Sebagai rekan kerja Allah Bapa disurga, perempuan mempunyai tugas khusus
yaitu memelihara, mendidik anak-anaknya dari masih didalam kandungan sampai
sudah didunia. Tugas itu sangat penting oleh karena itu Allah memilih perempuan
untuk menjalankan tugas tersebut
Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka
pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
Pada masa sekarang menghadapi era informasi dimana kedudukan kaum
perempuan dibanyak segi bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam
hal dimana kedudukan isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa
sukar dipecahkan, tetapi keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan
serius pentingnya peran ibu rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan
yang ´takut akan Tuhan´ (Maz.78:1-8), dan disinilah pengorbanan seorang ibu
perlu dipuji. Dalam hal seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga
sehingga bagi mereka karier dinomor duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´
lebih-lebih selama anak-anak masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih
toleran menjadi ´penolong´ bagi isteri dalam tugas ini.
Oleh karena itu apabila dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki
tidak ada nya diskriminasi, maka kemungkinan besar kasus kekerasan dalam rumah
tangga akan menurun dan kerukunan baik didalam rumah tangga maupun dalam
masyarakat akan terjalin dengan indah. Seperti ajaran Allah kepada manusia
yaitu "KASIH"
Bias Gender
Bias gender masih sangat kental dalam tradisi agama kristiani terutama
Nampak pada perjanjian baru, khususnya naskah-naskah pasca paulus. Padahal,
Teologi kesetaraan gender sudah cukup jelas diungkapkan dalam perjanjian lama.
Sebagaimana diungkapkan Rosemary Radford, guru besar Teologi di Universitas Northwestern di
Evanston-illionis, bahwa “pernyataan penuh semangat yang membenarkan sikap
merendahkan perempuan saat harus dilihat sebagai wujud dari agama Kristen patriakhal pasca Kristen kerakyatan yang
lebih awal”. Ia mengakui bahwa sebenarnya tidak ada ayat-ayat di dalam bible
yang membenarkan untuk merendahkan dalam perempuan.
Pandangan patriakhal
dari agama Kristen ini terjadi karena adanya deduksi terhadap hukum alam,
terutama soal penciptaan alam. Dalam perjanjian lama disebut bahwa: “kepala
dari tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan
kepala dari Kristus adalah Allah… sebab laki-laki tidak berasal dari laki-laki”(1
korintus 11:3, 8).
Mayoritas teolog Kristen
menyamakan tatanan sosial
laki-laki (patriarkhis) dengan tatanan yang diciptakan Tuhan atau hukum alam.
Dengan kata lain mereka meyakini bahwa kepemimpinan laki-laki sifat yang
melekat secara natural dan dikehendaki oleh Tuhan. Karena itu menempatkan
perempuan sebagai kelas dua merupakan keharusan dan beragam upaya untuk
menempatkan perempuan setara dengan laki-laki dianggap sebagai perbuatan yang
melanggar ketentuan Tuhan. Bila ini terus dilakukan, maka akan menimbulkan
kekacauan dan moral sosial.
Pandangan yang
menempatkan kepemimpinan laki-laki ini sebagai hukum alam dan merupakan
ketentuan Tuhan berakibat pada adanya keyakinan bahwa Tuhan itu laki-laki.
Kekuasaan Tuhan sebagai sebuah sifat lalu disimbolkan menjadi milik kekuasaan
laki-laki. Ironisnya, cara pandang seperti ini kemudian diterapkan dalam keluarga, keluarga akan mampu
melahirkan tatanan social yang baik, bila dipimpin oleh laki-laki. Dengan
begitu, simbol kekuasaan dalam rumah tangga hanya boleh dimiliki oleh suami
atau ayah dan bukan pada istri atau ibu. Implikasinya, istri harus menjadi
pengikut setia dan taat pada suami, pelengkap bagi suami dan mediator bagi
anak-anak dengan ayahnya. Cara pandang seperti ini menafikan kebebasan perempuan
untuk memilih, dan untuk mandiri. Tragisnya, seorang istri tidak dibenarkan
untuk memberontak atau hidup sendirian, meskipun suaminya seorang pelaku
kekerasan, penjudi, pemabuk, pendosa, dan suka bersikap lalim.
Superioritas kaum
laki-laki seperti ini didasarkan pada teks-teks agama yang nampaknya bias
gender, sebagaimana di ungkapkan dalam alkitab:
“Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami
adalah kepala istri sama seperti kristus adalah kepalaa jemaat. Dialah yang
menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada kristus,
demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu”(Efesus 5:22-24).
YAHUDI
SADAR GENDER
Dalam tradisi Yahudi, perempuan di satu sisi digambarkan sebagai mahluk
yang kuat, baik dan sopan, seperti: Batsheba sebagai perempuan yang pandai,
Deborah seorang nabi perempuan, Ruth seorang yang terpandang dan Esther seorang
juru selamat rakyatnya. Namun, dalam tradisi Yahudi juga ditemukan ajaran bahwa
perempuan merupakan asal mula dosa dan juga melalui perempuan manusia akan
mati. Laki-laki harus bekerja dan perempuan harus melahirkan dalam kesakitan.
Perempuan yang sedang menstruasi dan 7 hari selebihnya dianggap kotor dan tidak
suci, bahkan harus disembunyikan di goa-goa gelap atau diasingkan dan
sebagainya. Perempuan yang melahirkan, 33 hari dianggap kotor apabila anaknya
laki-laki. Kalau anaknya perempuan, maka masa tidak sucinya /kotornya menjadi
berlipat. Jika telah selesai masa tidak sucinya, ia harus mencari pendeta untuk
membuat penebusan dosa untuknya. Bahkan dalam Talmud, ada teks doa: “saya
berterimakasih pada-Mu Tuhan, karena tidak menjadikanku perempuan.” Dalam
agama Yahudi, laki-laki mempunyai posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan
perempuan. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan gender. Ketika suatu
perbuatan itu dilakukan oleh laki-laki, maka dianggap sebagai suatu kebenaran.
Gender dalam pandangan Kitab Suci Perjanjian Lama misalnya dalam kaca
mata Yahudi sarat dengan pandangan tentang Allah sebagai Bapa yang mahakuasa,
suka marah, menghukum. Pandangan Allah sebagai Bapa dalam masyarakat Yahudi ini
menunjuk pada dominasi laki-laki, sehingga dasar membuat pranata kehidupan juga
atas dasar pandangan laki-laki. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan dalam
masyarakat yang menggeser perempuan tanpa disadari oleh kaum perempuan itu
sendiri. Pranata kehidupan yang dibuat atas dasar peran laki-laki dianggap
sebagai suatu kebenaran. Perbedaan biologis di antara manusia menjadi objek
dasar pembuatan pranata kehidupan (pandangan seksis). Kitab Kejadian, Keluaran,
I Raja-raja, II Raja-raja, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, dalam Perjanjian
Lama sangat sarat dengan peringatan akan penguasa sewenang-wenang yang membuat
pranata kehidupan tidak manusiawi iniDalam pandangan Yahudi, martabat perempuan
sama dengan pembantu. Mereka menganggap perempuan adalah sumber laknat karena
dialah yang menyebabkan adam diusir dari surga.
Seperti halnya dalam hukum waris agama Yahudi bahwa anak laki-laki lah
yang merupakan pewaris utama dari orang tuanya. Kalau anak laki-laki ini banyak
maka yang tertua lah yang lebih utama, dan memperoleh warisan dua kali lipat
dari bagian saudara-saudara yang lain. Sedangkan anak perempuan yang belum
berumur dua belas tahun tidak berhak menerima warisan. Dalam hukum perkawinan
agama Yahudi poligami diharuskan dan jumlahnya tidak dibatasi, karena tidak
terdapat larangan dan batasan untuk itu. Kedudukan seorang istri atau anak
perempuan berdasarkan hukum Yahudi adalah lemah sekali. Seorang wanita yang
sudah dikawinkan, menjadi seolah-olah dibeli oleh suaminya dari bapaknya, dan
suaminya menjadi tuannya. Ia tak ubahnya sebagai anak kecil atau burung patah
sayap. Ia tak berhak membeli ataupun menjual. Semua harta bendanya menjadi
milik suaminya. Istri tidak berhak memiliki apa-apa selain maskawin yang
diterimakan kepadanya. Disamping itu, kaum wanita sebagai istri wajib melakukan
semua pekerjaan rumah tangga, baik yang berat maupun ringan. Kewajiban ini
harus dilaksanakan dengan taat. Sementara dalam buku Fundamentalism and
Woman in World Religions, yang diedit oleh Arvind Sharma dan Katherine
K. Young, dijelaskan: As we shall see, women’s roles are a profound
symbol of the extent to which Jewish societies accept—or reject—modernity and
Westernization. (Seperti kita akan lihat, peran perempuan adalah simbol
yang mendalam sejauh mana masyarakat Yahudi menerima atau menolak--modernitas
dan westernisasi). Artinya, dalam masyarakat Yahudi kontemporer justru
perempuan mendapatkan penilaian khusus dengan menjadi sebuah simbol diterima
atau ditolaknya modernitas dan westernisasi.
Dalam kehidupan Yahudi Kontemporer, keberadaan gender menjadi salah satu
kunci penting untuk memahami peran fundamentalisme, yang berdampak pada
konstruksi identitas perempuan yahudi, budaya yahudi, dan kehidupan perempuan
yahudi. Contemporary social scientists assume that while certain aspect of
sexuality are biologically determined, gender roles are constructed by societies.(Ilmuwan
sosial kontemporer mengasumsikan bahwa sementara aspek-aspek tertentu dari
seksualitas secara biologis ditentukan, peran gender yang dibangun oleh
masyarakat). Dalam upaya membangun tatanan baru dunia, pejuang Feminis Yahudi
dan Kristen, berusaha melakukan koreksi terhadap dominasi laki-laki atas
teologi dan marginalisasi serta eksklusi perempuan dari wilayah agama. Mereka
mengembangkan teologi feminis, sebagaimana yang muncul di Inggris sejak abad
ke-17. Teologi feminis berupaya membaca ulang teks suci dari perspektif
perempuan dan mencari dasar teologis bagi pengakuan harkat dan martabat
perempuan. Dalam Yahudi mempercayai sebuah kepercayaan dasar: bahwa laki-laki
dan wanita adalah ciptaan Tuhan, Pencipta alam semesta. Tetapi, silang sengketa
segera muncul sesudah diciptakan pria pertama Adam, dan wanita pertama, Hawa.
Konsepsi Yahudi dalam hal penciptaan Adam & Hawa iuraikan
secara rinci di dalam kitab PL, Kejadian 2:4-3:24. Yang intinya: Tuhan melarang mereka memakan buah dari pohon terlarang. Ular datang dan membujuk Hawa untuk memakannya, dan selanjutnya, Hawa membujuk Adam untuk makan bersamanya. Ketika Tuhan menegur Adam atas apa yang telah dilakukannya tersebut, Adam meletakkan kesalahan semua kepada Hawa: "Wanita yang kau berikan kepada saya, dia memberi buah tersebut kepada saya, lalu saya memakannya." Akibatnya Tuhan berkata kepada Hawa: "Saya akan menambah kesusahan kepadamu pada waktu kamu hamil dan pada waktu kamu melahirkan.Hasratmu hanya untuk suamimu dan dia akan mengatur kamu."
secara rinci di dalam kitab PL, Kejadian 2:4-3:24. Yang intinya: Tuhan melarang mereka memakan buah dari pohon terlarang. Ular datang dan membujuk Hawa untuk memakannya, dan selanjutnya, Hawa membujuk Adam untuk makan bersamanya. Ketika Tuhan menegur Adam atas apa yang telah dilakukannya tersebut, Adam meletakkan kesalahan semua kepada Hawa: "Wanita yang kau berikan kepada saya, dia memberi buah tersebut kepada saya, lalu saya memakannya." Akibatnya Tuhan berkata kepada Hawa: "Saya akan menambah kesusahan kepadamu pada waktu kamu hamil dan pada waktu kamu melahirkan.Hasratmu hanya untuk suamimu dan dia akan mengatur kamu."
Kepada Adam, Tuhan berfirman: "Karena kamu mendengarkan apa yang
dikatakan isterimu sehingga kamu mematuhinya dan memakan buah tersebut...saya
turunkan kamu kebumi, kamu akan memakan segala sesuatu yang adadibumi sampai
kamu mati..."
Para Pendeta Yahudi telah memberikan sembilan kutukan yang dibebankan
kepada wanita sebagai hasil dosa Adam & Hawa: "Kepada wanita
Tuhan memberikan sembilan kutukan dan kematian; beban berupa darah menstruasi
dan darah keperawanan, kehamilan, kelahiran, membesarkan anak, penutupan kepala
dalam dalam berkabung, menjadi budak ang melayani tuannya, tidak dipercaya
kesaksiannya, dan setelah itu semua adalah kematian." Hingga saat ini,
orang Yahudi Ortodoks, dalam setiap kali berdo'a mengatakan, "Terimakasih
Kepada Tuhan, Raja Alam Semesta, Yang tidak menjadikan kami seorang
wanita".
HINDU
SADAR GENDER
Dalam keyakinan
Hindu, hidup itu harus mencapai empat hal; yaitu Darma (kebenaran, tugas
kewajiban, agama, ajaran moral), Arta (kekayaan), Kama (nafsu) serta Moksa
(manunggaling kawulo gusti).
Dalam rangka melaksanakan darma untuk mengejar arta dan kama supaya mencapai moksa, ajaran Hindu menggunakan konsep Catur Asram, yaitu: - Brahma Carya, yaitu masa menuntut ilmu pengetahuan (live long education) - Grahasta, yaitu masa berumahtangga - Wanaprasta, yaitu masa pensiun - Biksuka, yaitu masa menunggu mati dengan mendalami agama Sebagai pedoman berumahtangga, umat Hindu ini diajarkan untuk harmoni, rukun, yang tertuang dalam tritakarana (tiga penyebab kebahagiaan), yaitu; manusia harmoni dengan Tuhan, manusia harmoni dengan sesama, manusia harmoni dengan lingkungan. Dengan konsep tritakarana ini, manusia tidak boleh hinakarma (menyakiti orang lain). Tugas dan kewajiban suami dalam rumahtangga adalah; 1. Mengupayakan kesehatan jasmani anak. 2. Membangun jiwa anak. 3. Memberi makan anak. 4. Memeberi perlindungan pada anak dan istri. 5. Menyelamatkan keluarga saat bahaya datang. 6. Mengusahakan makanan yang sehat dan suci serta diperoleh dari perbuatan yang benar. 7. Memeberi ilmu pengetahuan keluarga. 8. Membina mental spiritual. 9. Menggauli istri, menghormati istri, bergaul hanya dengan istri. 10. Suami sebagi pelindung istri. 11. Bertugas mengawinkan putra putrinya dengan adill Sedangkan tugas istri, dalam Kitab Mahabharat disebutkan; istri sebagai ibu, juga sebagai dewi, sebagai permaisuri. Dalam Kitab Ramayana, tugas istri adalah: 1. Melahirkan dan memelihara anak. 2. Memberi kebahagiaan pada suami dan anak. 3. Ramah pada suami dan keluarga suami, baik dalam suka maupun duka. 4. Memeberi kebahagiaan dan keberuntungan pada suami dan mertua. 5. Menjadi pengayom dalam keluarga. 6. Berpeampilan lemah lembut dan simpatik. 7. Menjadi pelopor kebaikan dalam keluarga. 8. Patuh pada suami. 9. Setia pada suami. 10. Senantiasa waspada dan tahan uji. 11. Menghormat pada orangtua. Dalam Hindu, perempuan bisa menjadi pendeta (padane). Bahkan disebutkan jika perempuan tidak dihormati, maka tidak ada upacara persembahan yang memberi kebahagiaan dan pahala yang mulia. Sementara itu, tugas anak adalah: 1. Menuntut ilmu pengetahuan (masa Brahma Carya) 2. Menghormati orangtua 3. Menjadi anak yang su putra (anak yang baik), menjaga nama baik keluarga 4. Menyenangkan hati orangtua dan tidak boleh berbicara kasar pada orangtua Forum kemudian dilanjutkan dengan diskusi, yang dimulai dengan pertanyaan dari Bapak Imam; "1) Apakah dalam agama Hindu tidak ada ajaran selibat? 2) Ketika melarang umatnya untuk tidak melakukan suatu perbuatan tertentu, apakah ada sanksi hukuman? 3) Bagaimana komentar agama/ lembaga Parisade Hindu Dharma terhadap UU PKDRT?" Dijawab oleh Bapak Ida; "1) Dalam Hindu, ada tiga jenis orang, pertama; Sukle Brahma Care, mereka ini tidak beristri sejak awak hingga mati. Kedua; Sewala Brahma Care, hanya beristri satu atau bersuami sekali seumur hidup. Ketiga; Tresna Brahma Care, memberi kesempatan bagi laki-laki untuk menikah lebih dari satu, maksimal empat perempuan. 2) Menurut ajaran Hindu, semua perbuatan (baik atau buruk) akan menerima karmanya. 3) Fatwa untuk tidak melakukan kekerasan, jelas ada. Di samping itu, ajaran Hindu meyakini ketika kekerasan terjadi berarti tidak terjadi kepatuhan terhadap ajaran agama. Fatwa ini dikeluarkan para pendeta yang duduk di Parisade Hindfu Dharma, yang di dalam Parisade Hindu Dharma ini juga terdapat perempuan. Pertanyaan dilanjutkan oleh Bapak Edi S.; "Dalam Hindu, apakah ada ruang untuk pembolehan perceraian?" Dijawab oleh Bapak Ida; "Perceraian bisa terjadi ketika seorang istri meninggalkan suaminya selama 3 hari. Sehingga suami bisa menyatakan dia bukan istrinya lagi. Karena bersifat patriarkhi, maka anak ikut suami. Bapak Edi S. kembali bertanya; "Tidak adakah, karena dogma patriarkhi, kemudian laki-laki merasa bisa berbuat kekerasan?" Dijawab: "Manusia itu Dewaye butaye, artinya bisa berbuat baik dan bisa pula berbuat kejahatan. Kalau terjadi kekerasan itu berasal dari masing-masing pribadi. Dalam ajaran Hgindu, tidak ada pembenaran kekerasan." Apakah orang yang sekarang manusia besok reinkarnasi menjadi manusia lagi?" tanya Bapak Edi S. "Belum tentu, reinkarnasi menjadi manusia adalah merupakan karma baik. Konsep karma ini mendorong umat Hindu untuk berbuat baik karena adanya dorongan untuk mendapat karma baik. Dalam agama Hindu yang dicari adalah Moksa, yaitu bersatunya manusia dengan Tuhan. Permasalahan yang sering dilontarkan berkaitan dengan Hindu adalah istilah Varna yaitu fungsi dalam kehidupannya. Varna ini adalah; Brahmana (orang yang ahli Vreda), Ksatria (yaitu orang yang ahli pemerintahan), Weisya (orang yang ahli ekonomi) dan Sudra (orang yang menggunakan tenaga fisik, seperti petani dsb). Tingkatan dalam hal ini adalah bersifat horisontal, bukan vertikal. Masing-masing tingkatan adalah sama, tidak ada salah satu tingkatan yang lebih mulia daripada yang lainnya. Kemuliaan bergantung pada bagaimana dia melakukan tugas dan kewajibannya. Pembentukan kelas-kelas ini bukan karena ajaran agama, tetapi lebih merupakan tatanan kehidupan." Bapak Edi S. bertanya kembali; "Apakah Hindu Indonesia dengan Hindu di India sama?". Dijawab oleh Bapak Ida; "Berbeda, kita punya sifat, bentuk, isi dan irama. Kita sama sifatnya, tetapi berbeda dalam bentuk, isi dan irama." |
BUDDHA
SADAR GENDER
Dalam kehidupan bermasyarakat, sang Budha tidak membedakan peran
laki-laki maupun perempuan. Mereka memliki peran yang setara dan adil. Seperti
laki-laki, perempuan juga bisa menjadi majikan, atasan, guru(brahmana) sesuai
kotbah sang Budha.
Mengacu pada perkembangan budha Dharma bahwa pemberdayaan dan
kemitrasejajaran perempuan telah diperjuangkan dan ditumbuhkembangkan oleh sang
Budha. Hal ini dapat dikaji dari kisah-kisah siswa Budha yang sebagian adalah
perempuan dan diterangkan pula bahwa perempuan membawa peran penting dalam
perkembangan agama Budha
Kesetaraan gender dalam agama Budha didasari kewajiban dan tanggungjawab
bersama dalam rumah tangga dan adanya kehendak bersama dalam menjalankan
kehidupan berumah tangga. Menurut agama Budha, manusia terdiri dari laki-laki
dan perempuan yang muncul bersama di muka bumi ini. Dan dia dapat terlahir
sesuai dengan karmanya masing-masing, sehingga kedudukan antara laki-laki
maupun perempuan dalam agama budha tidak dipermasalahkan. Agama Buddha
membimbing umatnya untuk menghargai gender.
Dalam Paninivana Sutta, sang Budha mengatakan seluruh umat manusia tanpa
tertinggal memiliki jiwa Budha. Laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang
agung, karenanya agar terjadi keseimbangan dalam menjalanjan fungsi
kehidupannya, maka keduanya memiliki karakter yang berlawanan, padahal justru
dari sinilah muncul keseimbangan.
c.
Penolakan terhadap argumen “setara” dalam Buddhisme.
Dalam agama Budha, kehidupan dicapai dalam dua komunitas, yaitu komunitas
religius dan sekuler. Dalam komunitas religius, jelas bahwa diskriminasi
muncul, yaitu hilangnya hak perempuan untuk ditahbiskan menjadi bikhuni, seperti
pada waktu Sang Budha hidup. Karena tangga bikhuni dianggap sudah hancur dan
tidak pernah bisa didirikan kembali ketika India dan Srilanka diserang oleh
Bangsa Turki dan Holland. Karena syarat pentahbisan bikhuni dianggap sudah
mati, maka kaum perempuan sudah tidak bisa dioptimasi. Hal ini sudah melawan
doktrin dasar Sang Budha tentang kesetaraan.
Dalam lapangan sekuler (kehidupan rumahtangga), cacat ini tidak begitu terlihat. Sehingga ada ilmuwan yang menyatakan kesempurnaan teori Sang Budha karena tidak menemukan teks-teks yang bersifat metogenis dalam ajaran dasarnya. Maka seakan-akan, dalam ajaran Sang Budha, kesetaraan gender ini sudah terwujud, padahal sebenarnya tidak juga.
Dalam lapangan sekuler (kehidupan rumahtangga), cacat ini tidak begitu terlihat. Sehingga ada ilmuwan yang menyatakan kesempurnaan teori Sang Budha karena tidak menemukan teks-teks yang bersifat metogenis dalam ajaran dasarnya. Maka seakan-akan, dalam ajaran Sang Budha, kesetaraan gender ini sudah terwujud, padahal sebenarnya tidak juga.
Hidup Berkeluarga dalam Agama Budha Jika dalam agama Islam, Kristen, Hindu,
pernikahan dianggap sakral, di dalam agama Budha tidak. Dalam Budha, ordo
apapun, perkawinan semata-mata dianggap urusan duniawi. Oleh karena itu tidak
ada sanksi religius di dalam hubungan suami istri. Jadi kalau laki-laki dan
perempuan merasa cocok, maka tinggal masalah komitmen saja.
Meskipun Sang Budha tidak banyak berbicara masalah perkawinan, tetapi
Sang Budha juga mengajarkan hubungan keluarga, tentang suami istri yang penuh
kasih sayang dan setara. Namun dalam Budhisme, dalam hubungan keluarga ini yang
ditekankan adalah masalah kewajiban saja, bukan hak dan kewajiban. Hal ini
dikarenakan adanya doktrin Anata, tidak ada aku, tidak ada aku yang berdiri
sendiri. Jadi dalam tubuh manusia tidak ada yang disebut sebagai aku, melainkan
hanya elemen.
Dalam sejarah Budhisme, lima tahun sejak terbentuknya komunitas bikhu
sangga, para kaum laki-laki menjalani hidup suci. Mereka ditahbiskan oleh sang
Budha membentuk suatu komunitas besar yang hidup selibat berpetualang di
hutan-hutan, tidak menetap di vihara. Karena dalam pandangan Budhisme awal
bahwa hidup selibat merupakan cara yang paling efektif untuk mencapai kebebasan
tertinggi yaitu valhala.
Dengan adanya kenyataan seperti itu, para perempuan juga menginginkan hal yang sama.
Dengan adanya kenyataan seperti itu, para perempuan juga menginginkan hal yang sama.
Dalam teori hukum karma, kelahiran sebagai perempuan merupakan karma
buruk. Sang Budha merevolusi hukum tersebut dengan penemuan baru teori hukum
karma bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama, tidak dibedakan berdasarkan
fisik, kelas kastanya, tetapi dari perbuatan masing-masing. Mendengar ajaran
itu, para perempuan dari suku Satya yang semuanya bangsawan (dimulai dari bibi
Sang Budha sendiri yang menjadi ibu tiri yang membesarkannya, yaitu Mahapati
Gotami) dan istri Sang Budha sendiri, Tias Negara, menghadap kepada Sang Budha
dan memohon; "Sang Budha, alangkah baiknya perempuan juga diperbolehkan
untuk menjalani hidup suci karena kami ingin mencapai kesucian". Sang
Budha menjawab; "Berhati-hatilah dengan keinginanmu itu". Permohonan
ini tiga kali ditolak, hingga para perempuan ini meminta bantuan asisten Sang
Budha yaitu Bikhu Amanda dan ternyata permohonan masih ditolak. Tetapi pada
akhirnya permohonan ini dikabulkan.
Hal yang ditekankan dalam Budhisme tentang kehidupan berkeluraga adalah
kewajiban yang harus diberikan kepada anggota keluarga lainnya. Mereka berfikir
bagaimana membahagiakan anggota keluarga yang lain daripada berpikir
kepentingannya sendiri.
Namun dalam konteks prilaku, hubungan laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi oleh budaya India yang patrialistik. Jadi kalau secara teori kelihatannya agama Budha selangkah lebih maju tetapi ternyata beban kultur patrialistik masih tetap ada. Misalnya; ada teks yang menyatakan bahwa perempuan yang dianggap sebagai istri sempurna adalah perempuan yang bangun lebih dulu dari suaminya, selalu pergi tidur setelah suaminya tertidur, selalu patuh pada suaminya, selalu bersikap ramah dan sopan, dari mulutnya hanya keluar kata-kata ramah dan sopan. Teks-teks minor seperti itu setelah dianalisis oleh feminmis Budhis, terlihat ketidaksesuaian teks-teks tersebut dengan teks-teks yang lain, ketidaksingkronan antara teks-teks dengan spirit ajaran Budha yang egaliter.
Dalam aliran Therrawada, dengan hidup selibat, waktu akan terfokus habis untuk meditasi dan sebagainya. Kalau berkeluarga taanggungjawab akan banyak terbagi untuk mengurusi pasangannya, untuk mengurus anak, untuk mencari penghasilan keluarga dan sebagainya. Sementara para bikhu ini dapat hidup dari sokongan umat, jadi waktu mereka betul-betul terkonsentrasikan untuk meditasi dan membimbing umat.
Tetapi meskipun demikian, Sang Budha mengatakan bahwa peluang untuk mencapai kesucian antara orang yang hidup berumahtangga dean orang yang hidup selibat adalah sama.
Namun dalam konteks prilaku, hubungan laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi oleh budaya India yang patrialistik. Jadi kalau secara teori kelihatannya agama Budha selangkah lebih maju tetapi ternyata beban kultur patrialistik masih tetap ada. Misalnya; ada teks yang menyatakan bahwa perempuan yang dianggap sebagai istri sempurna adalah perempuan yang bangun lebih dulu dari suaminya, selalu pergi tidur setelah suaminya tertidur, selalu patuh pada suaminya, selalu bersikap ramah dan sopan, dari mulutnya hanya keluar kata-kata ramah dan sopan. Teks-teks minor seperti itu setelah dianalisis oleh feminmis Budhis, terlihat ketidaksesuaian teks-teks tersebut dengan teks-teks yang lain, ketidaksingkronan antara teks-teks dengan spirit ajaran Budha yang egaliter.
Dalam aliran Therrawada, dengan hidup selibat, waktu akan terfokus habis untuk meditasi dan sebagainya. Kalau berkeluarga taanggungjawab akan banyak terbagi untuk mengurusi pasangannya, untuk mengurus anak, untuk mencari penghasilan keluarga dan sebagainya. Sementara para bikhu ini dapat hidup dari sokongan umat, jadi waktu mereka betul-betul terkonsentrasikan untuk meditasi dan membimbing umat.
Tetapi meskipun demikian, Sang Budha mengatakan bahwa peluang untuk mencapai kesucian antara orang yang hidup berumahtangga dean orang yang hidup selibat adalah sama.
Menurut beberapa sarjana melihat bahwa sang
Buddha merupakan makhluk hidup dalam budaya tertentu dengan dipengaruhi oleh
kebudayaan dimana ia dibesarkan. Pencapaian Buddha sangat luar biasa dan
melebihi para dewa dan manusia, namun yang masih dipertanyakan disini mengapa
sang Budha masih mengkhawatirkan atas kritikan-kritikan dari masyarakat di
masanya? Dari semua hal yang telah dibahas diatas bahwa ajaran Buddha mendukung
adanya gerakan kesetaraan gender. Tetapi dalam kenyataannya kesetaraan gender
belum terjadi didalam kehidupan sehari-hari para biksuni yang masih dibawah otoritas
para biksu.
KONGHUCU
SADAR GENDER
Selama 2.500 tahun ajaran Konfusius telah mempengaruhi pemikiran dan
perilaku masyarakat di Cina, Korea, Jepang, dan Vietnam. Penekanan utama ulama
perempuan Asia telah menjadi pemeriksaan ideologi Konfusianisme sejarah dan
status saat ini. Scholar Xiao Ma mengatakan: "Wanita selalu telah berjuang
untuk jalan keluar dari bayang-bayang Konfusianisme."
Meskipun Cina awal tidak memiliki komitmen nyata untuk subordinasi
perempuan, dari waktu ke waktu ajaran Konfusianisme yang diperluas. Itu selama
dinasti Han (206 SM - 220 M) bahwa Konfusianisme diadopsi sebagai doktrin
negara pemerintah, dengan pikirannya menjadi bagian dari pendidikan resmi.
Dalam dinasti kemudian, interpretasi Neoconfucian lebih diperkuat otoritas
laki-laki dan adat patrilineal. Menurut struktur Konfusianisme masyarakat,
perempuan pada setiap tingkat adalah untuk menempati posisi yang lebih rendah
dibandingkan laki-laki. Kebanyakan Konghucu menerima sikap tunduk perempuan
untuk laki-laki sebagai alami dan tepat. Pada saat yang sama mereka diberikan
kehormatan dan kekuasaan perempuan sebagai ibu dan ibu mertua dalam keluarga
mereka.
Selama bertahun-tahun seluruh tubuh sastra ditulis, mendidik perempuan
tentang disiplin diri, etika, hubungan dengan mertua, manajemen rumah tangga,
kerendahan hati, dan kesucian. Biografi yang ditulis tentang wanita mengagumkan
menekankan mementingkan diri setia dan rela berkorban kesediaan mereka untuk
melakukan apa pun untuk membantu suami dan keluarganya. Meskipun ideologi
adalah satu hal dan realitas kehidupan perempuan sering lain, bayangan panjang
keyakinan dasar tentang sifat dan peran perempuan memiliki efek yang luas.
Kegiatan ini menawarkan ucapan tradisional yang didasarkan pada interpretasi
kepercayaan Konghucu untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang implikasi
dari ucapan-ucapan tersebut pada partisipasi bersejarah perempuan dan status
mereka dalam masyarakat.
Saya mengutip kalimat-kalimat bias gender ini berasal dari
tulisan-tulisan Konfusius terinspirasi, teks moralitas, dan dari ucapan-ucapan
berdasarkan interpretasi kemudian model Konghucu keluarga
"Tugas seorang wanita adalah tidak untuk mengontrol atau mengambil
alih."
"Tugas terbesar Perempuan adalah untuk menghasilkan anak
laki-laki."
"Seorang wanita penguasa seperti kokok ayam."
"Seorang suami bisa menikah dua kali, tapi istrinya tidak pernah
harus menikah lagi."
"Kita tidak boleh terlalu akrab dengan perintah yang lebih rendah
atau dengan wanita."
"Wanita dengan bakat adalah orang yang memiliki manfaat."
"Perempuan harus dipimpin dan mengikuti orang lain."
"Seorang suami dapat menikah dua kali, tapi istrinya tidak pernah
harus menikah lagi."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar