Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat telah membawa
dunia pada era yang disebut dengan globalisasi. Era ini ditandai dengan
munculnya perubahan-perubahan fundamental dalam berbagai aspek kehidupan
manusia. Lahirnya knowledge society yang ditandai dengan dominasi otoritas
ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia dan munculnya “global village” yang
semakin memperkecil makna perbedaan jarak, ruang dan waktu, memberikan dampak
yang signifikan terhadap kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Di
sisi lain, hegemoni ilmu pengetahuan modern memunculkan kritik feminis yang
mengoreksi dan menolak kebenaran universal epistemologi positivistik yang
sesungguhnya merupakan konstruksi sosial yang bersifat partikular, sarat dengan
bias kultur dan gender.
Pada bab sebelumnya kita telah bersama-sama membahas mengenai apa yang
dimaksud dengan gender. Menurut Azyumardi Azra, gender merupakan perbedaan
peran antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh budaya. Perbedaan peran
ini sudah demikian melekat dalam masyarakat, sehingga diasumsikan sebagai peran
kodrati. Hal tersebut tidak akan menimbulkan masalah selama tidak memunculkan
ketimpangan relasi gender dan peran gender.Atau dalam pengertian lain bahwa
gender adalah perbedaan tingkah laku antara laki-laki dan perempuan yang secara
sosial dibentuk perbedaan yang bukan kodrat ini diciptakan melalui proses
sosial dan budaya yang panjang.
Isu gender menjadi agenda penting dari semua pihak karena realitas
perbedaan gender yang berimplikasi pada perbedaan status, peran dan tanggung
jawab antara laki-laki dan perempuan yang menimbulkan ketidakadilan gender atau
diskriminasi maupun penindasan. Ketidakadilan ini dapat terjadi di berbagai
bidang kehidupan, baik dalam wilayah domestik maupun publik, dalam bidang
pendidikan, kesehatan, keamanan, ekonomi, politik, maupun pembangunan secara
lebih luas. Problem ketidakadilan gender ini dalam banyak kasus menjadi isu
yang cukup sensitif dan tidak mudah dipecahkan, terutama ketika terkait dengan
doktrin agama, bahkan seolah-olah mendapatkan legitimasi teologis. Makalah ini akan membahas mengenai bagaimana relasi
gender dalam agama Yahudi.
A. Gender Perspektif Yahudi
Dalam tradisi Yahudi, perempuan di satu sisi digambarkan sebagai mahluk
yang kuat, baik dan sopan, seperti: Batsheba sebagai perempuan yang pandai,
Deborah seorang nabi perempuan, Ruth seorang yang terpandang dan Esther seorang
juru selamat rakyatnya. Namun, dalam tradisi Yahudi juga ditemukan ajaran bahwa
perempuan merupakan asal mula dosa dan juga melalui perempuan manusia akan
mati. Laki-laki harus bekerja dan perempuan harus melahirkan dalam kesakitan.
Perempuan yang sedang menstruasi dan 7 hari selebihnya dianggap kotor dan tidak
suci, bahkan harus disembunyikan di goa-goa gelap atau diasingkan dan
sebagainya. Perempuan yang melahirkan, 33 hari dianggap kotor apabila anaknya
laki-laki. Kalau anaknya perempuan, maka masa tidak sucinya /kotornya menjadi
berlipat. Jika telah selesai masa tidak sucinya, ia harus mencari pendeta untuk
membuat penebusan dosa untuknya. Bahkan dalam Talmud, ada teks doa: “saya
berterimakasih pada-Mu Tuhan, karena tidak menjadikanku perempuan.”
Dalam agama Yahudi, laki-laki mempunyai posisi yang lebih dominan
dibandingkan dengan perempuan. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan gender.
Ketika suatu perbuatan itu dilakukan oleh laki-laki, maka dianggap sebagai
suatu kebenaran.
Gender dalam pandangan Kitab Suci Perjanjian Lama misalnya dalam kaca mata
Yahudi sarat dengan pandangan tentang Allah sebagai Bapa yang mahakuasa, suka
marah, menghukum. Pandangan Allah sebagai Bapa dalam masyarakat Yahudi ini
menunjuk pada dominasi laki-laki, sehingga dasar membuat pranata kehidupan juga
atas dasar pandangan laki-laki. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan dalam
masyarakat yang menggeser perempuan tanpa disadari oleh kaum perempuan itu
sendiri. Pranata kehidupan yang dibuat atas dasar peran laki-laki dianggap
sebagai suatu kebenaran. Perbedaan biologis di antara manusia menjadi objek
dasar pembuatan pranata kehidupan (pandangan seksis). Kitab Kejadian, Keluaran,
I Raja-raja, II Raja-raja, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, dalam Perjanjian
Lama sangat sarat dengan peringatan akan penguasa sewenang-wenang yang membuat
pranata kehidupan tidak manusiawi ini.Dalam pandangan Yahudi, martabat perempuan sama dengan
pembantu. Mereka menganggap perempuan adalah sumber laknat karena dialah yang
menyebabkan adam diusir dari surga.
Seperti halnya dalam hukum waris agama Yahudi bahwa anak laki-laki lah yang
merupakan pewaris utama dari orang tuanya. Kalau anak laki-laki ini banyak maka
yang tertua lah yang lebih utama, dan memperoleh warisan dua kali lipat dari
bagian saudara-saudara yang lain. Sedangkan anak perempuan yang belum berumur
dua belas tahun tidak berhak menerima warisan. Dalam hukum perkawinan agama
Yahudi poligami diharuskan dan jumlahnya tidak dibatasi, karena tidak terdapat
larangan dan batasan untuk itu. Kedudukan seorang istri atau anak perempuan
berdasarkan hukum Yahudi adalah lemah sekali. Seorang wanita yang sudah
dikawinkan, menjadi seolah-olah dibeli oleh suaminya dari bapaknya, dan
suaminya menjadi tuannya. Ia tak ubahnya sebagai anak kecil atau burung patah
sayap. Ia tak berhak membeli ataupun menjual. Semua harta bendanya menjadi
milik suaminya. Istri tidak berhak memiliki apa-apa selain maskawin yang
diterimakan kepadanya. Disamping itu, kaum wanita sebagai istri wajib
melakukan semua pekerjaan rumah tangga, baik yang berat maupun ringan.
Kewajiban ini harus dilaksanakan dengan taat.
Sementara dalam buku Fundamentalism and Woman in World Religions, yang
diedit oleh Arvind Sharma dan Katherine K. Young, dijelaskan: As
we shall see, women’s roles are a profound symbol of the extent to which Jewish
societies accept—or reject—modernity and Westernization. (Seperti kita akan
lihat, peran perempuan adalah simbol yang mendalam sejauh mana masyarakat
Yahudi menerima atau menolak--modernitas dan westernisasi). Artinya, dalam
masyarakat Yahudi kontemporer justru perempuan mendapatkan penilaian khusus dengan
menjadi sebuah simbol diterima atau ditolaknya modernitas dan westernisasi
Dalam kehidupan Yahudi Kontemporer, keberadaan gender menjadi salah satu
kunci penting untuk memahami peran fundamentalisme, yang berdampak pada
konstruksi identitas perempuan yahudi, budaya yahudi, dan kehidupan perempuan
yahudi.Contemporary social scientists assume that while
certain aspect of sexuality are biologically determined, gender roles are
constructed by societies.(Ilmuwan sosial kontemporer mengasumsikan bahwa
sementara aspek-aspek tertentu dari seksualitas secara biologis ditentukan,
peran gender yang dibangun oleh masyarakat).
Dalam upaya membangun tatanan baru dunia, pejuang Feminis Yahudi dan
Kristen, berusaha melakukan koreksi terhadap dominasi laki-laki atas teologi
dan marginalisasi serta eksklusi perempuan dari wilayah agama. Mereka
mengembangkan teologi feminis, sebagaimana yang muncul di Inggris sejak abad
ke-17. Teologi feminis berupaya membaca ulang teks suci dari perspektif
perempuan dan mencari dasar teologis bagi pengakuan harkat dan martabat
perempuan.
Dalam Yahudi mempercayai sebuah
kepercayaan dasar: bahwa laki-laki dan wanita adalah ciptaan Tuhan, Pencipta
alam semesta. Tetapi, silang sengketa segera muncul sesudah diciptakan pria
pertama Adam, dan wanita pertama, Hawa. Konsepsi Yahudi dalam hal penciptaan
Adam & Hawa iuraikan
secara rinci di dalam kitab PL, Kejadian 2:4-3:24. Yang intinya: Tuhan melarang mereka memakan buah dari pohon terlarang. Ular datang dan membujuk Hawa untuk memakannya, dan selanjutnya, Hawa membujuk Adam untuk makan bersamanya. Ketika Tuhan menegur Adam atas apa yang telah dilakukannya tersebut, Adam meletakkan kesalahan semua kepada Hawa: "Wanita yang kau berikan kepada saya, dia memberi buah tersebut kepada saya, lalu saya memakannya." Akibatnya Tuhan berkata kepada Hawa: "Saya akan menambah kesusahan kepadamu pada waktu kamu hamil dan pada waktu kamu melahirkan.Hasratmu hanya untuk suamimu dan dia akan mengatur kamu."
secara rinci di dalam kitab PL, Kejadian 2:4-3:24. Yang intinya: Tuhan melarang mereka memakan buah dari pohon terlarang. Ular datang dan membujuk Hawa untuk memakannya, dan selanjutnya, Hawa membujuk Adam untuk makan bersamanya. Ketika Tuhan menegur Adam atas apa yang telah dilakukannya tersebut, Adam meletakkan kesalahan semua kepada Hawa: "Wanita yang kau berikan kepada saya, dia memberi buah tersebut kepada saya, lalu saya memakannya." Akibatnya Tuhan berkata kepada Hawa: "Saya akan menambah kesusahan kepadamu pada waktu kamu hamil dan pada waktu kamu melahirkan.Hasratmu hanya untuk suamimu dan dia akan mengatur kamu."
Kepada Adam, Tuhan berfirman:
"Karena kamu mendengarkan apa yang dikatakan isterimu sehingga kamu
mematuhinya dan memakan buah tersebut...saya turunkan kamu kebumi, kamu akan
memakan segala sesuatu yang adadibumi sampai kamu mati..."
Para Pendeta Yahudi telah memberikan
sembilan kutukan yang dibebankan kepada wanita sebagai hasil dosa Adam &
Hawa: "Kepada wanita Tuhan memberikan sembilan kutukan dan kematian;
beban berupa darah menstruasi dan darah keperawanan, kehamilan, kelahiran,
membesarkan anak, penutupan kepala dalam dalam berkabung, menjadi budak ang
melayani tuannya, tidak dipercaya kesaksiannya, dan setelah itu semua adalah
kematian."
Hingga saat ini, orang Yahudi Ortodoks, dalam setiap
kali berdo'a mengatakan, "Terimakasih Kepada Tuhan, Raja Alam Semesta,
Yang tidak menjadikan kami seorang wanita".
B. Pandangan Tokoh-tokoh Yahudi tentang
Gender
Berbicara mengenai gender berarti
membicarakan peran dan hubungan antara laki-laki dan perempuandalam masyarakat.
Hubungan laki-laki dan perempuan pada dasarnya adalah hubungan antara umat manusia.
Apapun yang baik dalam hubungan antara satu manusia dengan manusia yang lain,
adalah baik dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan menghindari
ketidakadilan gender (gender inequalities). Baik bagi kaum
laki-laki maupun perempuan. Perbedaan gender tidak menjadi masalah sepanjang
tidak melahirkan ketidakadilan, tetapi ia menjadi persoalan karena perbedaan
gender ini seringkali menimbulkan ketidakadilan. Adapun bentuk-bentuk
ketidakadilan gender dimaksud adalah stereotipe, marjinalisasi,diskriminasi,
tindak kekerasan dan beban kerja. Oleh karena itu diperlukan upaya menciptakan
relasi laki-laki dan perempuan yang adil dan harmonis.
Menurut Erich Fromm seorang Yahudi, seorang Psikoanalisis Sosial
berkebangsaan Jerman yang juga merupakan anggota Partai Sosialis Amerika era
1950-an, ia menyatakan bahwa hubungan antara kaum laki-laki dan kaum
perempuan adalah hubungan antara sebuah kelompok yang menang dan yang
kalah. Di Amerika Serikat tahun 1949 hal ini dianggap lucu ketika mengatakan
demikian, apalagi di zaman sekarang ini. Karena sudah jelas bisa kita lihat,
kaum perempuan di kota-kota besar tentu saja tidak tampak, tidak merasa, dan
tidak bertindak seperti layaknya kelompok yang kalah. Dia menambahkan kaum
perempuan telah menyelesaikan emansipasinya, dan oleh sebab itu berada sejajar
dengan kaum laki-laki, dan membuatnya bisa tampil.
Tokoh
berikutnya ialah Betty Friedan. Ia pernah mengatakan: “Jadi saya pikir pada
saat itu setiap wanita akan bereaksi dengan berbagai cara yang berbeda.
Beberapa wanita pada saat itu tidak akan memasak, sedangkan yang lainnya akan
terlibat dialog dengan suami mereka. Di Seluruh negeri beberapa wanita akan
keluar untuk berunjuk rasa. Mereka akan menekan anggota Kongres Senator agar
meluluskan undang-undang yang mempengaruhi peran wanita. “
Kalimat di
atas diucapkan Betty Friedan untuk menyambut demo besar-besaran wanita pada
tanggal 26 Agustus 1970 di Amerika Serikat. Friedan adalah seorang tokoh
feminis liberal yang ikut mendirikan dan kemudian diangkat sebagai presiden
pertama National Organization for Woman pada tahun 1966. Ia
menjadi pemimpin aksi untuk mendobrak UU di Amerika yang melarang aborsi dan
pengembangan sifat-sifat maskulin oleh wanita.
Betty Friedan
sendiri terlahir dengan nama Betty Naomi Goldstein pada tanggal 4 Februari
tahun 1921. Pada giliranya Friedan berkembang menjadi seorang aktivis feminis
Yahudi Amerika kenamaan pada durasi medio 1960-an. Puncak momentumnya terjadi
setelah ia berhasil mengarang "The Feminine Mystique".
Buku yang menjadi rujukan kaum feminis ini menggambarkan peranan wanita dalam
masyarakat industri. Friedan mengkritik habis peran ibu rumah tangga penuh
waktu yang baginya sangat mengekang dan jauh dari penghargaan terhadap hak
wanita.
Buku Freidan
pun terjual laris. The Feminine Mystique berubah menjadi “kitab
suci” bagi kaum wanita dan Freidan pun digadang-gadang menjadi pencetus
feminisme gelombang kedua setelah ombaknya pernah menyapu dunia abad 18.
Teori yang
sangat ternama sekali darinya adalah apa yang disebut oleh Freidan dengan
istilah Androgini. Androgini sendiri adalah istilah yang digunakan untuk
menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada
saat yang bersamaan. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani
yaitu ανήρ (anér, yang berarti laki-laki) dan γυνή (guné, yang
berarti perempuan) yang dapat merujuk kepada salah satu dari dua konsep terkait
tentang gender.
Namun
sejatinya, kata Androgini muncul pertama kali sebagai sebuah kata majemuk dalam
Yudaisme Rabinik sebagai alternatif untuk menghindari kata hemaprodit yang
bermasalah dalam tradisi Yahudi.
Akan tetapi,
sekalipun telah menapaki karir yang sangat memuncak dalam dunia feminisme,
gagasan Freidan pun juga menjadi sasaran kritik. Menariknya orang yang mengkritik
Friedan adalah seorang feminis lainnya bernama Zillah Eisenstein. Eisenstein
sendiri adalah Profesor Politik dan aktivis feminis dari Ithaca New York. Ia
menulis kritikan tajam terhadap gagasan konsep wanita bekerja milik Friedan.
Dalam bukunya, Radical future of Liberal Feminism, Eisenstsein
mengkritik;
“Tidak pernah jelas apakah pengaturan ini seharusnya meringankan beban
ganda perempuan (keluarga dan pekerjaan) atau secara signifikan menstruktur
ulang siapa yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak. Bagaimana tanggung
jawab ini dilaksanakan?”
Henry Makow
dalam tulisannya -Gloria Steinem: How the CIA Used Feminism to Destabilize
Society- telah menjelaskan dengan baik bagaimana peran CIA dalam
memobilisir isu feminisme. Pakar konspirasi kenamaan ini mengatakan bagaimana
media elit telah menciptakan feminisme gelombang kedua sebagai bagian dari
agenda elit untuk meruntuhkan peradaban dan mendirikan New World Order.
Kesalahpahaman utama kita tentang CIA, kata Makow, adalah bahwa CIA melayani
kepentingan AS. Nyatanya, ia selalu menjadi instrumen dinasti elit minyak dan
perbankan internasional (Rothschild, Rockefeller, Morgan) yang dikoordinasi
oleh Royal Institute for Internal Affairs di London dan cabang mereka di AS,
Council for Foreign Relations. Lembaga ini didirikan dan diisi oleh orang-orang
berdarah biru dari penguasa perbankan New York dan lulusan perkumpulan pagan
rahasia, “Skull and Bones”.
Jutaan pria
Amerika pun akhirnya dilemahkan dan dipisahkan dari hubungannya dengan keluarga
(dunia dan masa depan). Wanita Amerika diperdaya hingga mencurahkan diri dalam
karir keduniaan ketimbang dalam kasih-sayang tiada akhir kepada suami dan
anak-anaknya. Banyak wanita sudah tak layak untuk menjadi isteri dan ibu.
Orang-orang, yang terisolasi dan sendirian, terhalangi (pertumbuhannya) dan
lapar akan kasih sayang, mudah sekali dibodohi dan dimanipulasi. Tanpa pengaruh
sehat kedua orangtua yang mencintai, begitulah anak-anak mereka jadinya.
Penindasan
terhadap wanita adalah kebohongan. Pembagian peran berdasar jenis kelamin tak
pernah sekaku yang dipropagandakan kaum feminis. “Ibu saya sukses menjalankan
bisnis impor tali arloji dari Swiss pada tahun 1950-an. Saat pendapatan ayah
saya meningkat, dia bersedia berhenti dan berkonsentrasi mengurus anak-anak.
Wanita bebas mengejar karir jika mereka mau. Bedanya, dahulu peran mereka
sebagai isteri dan ibu dipahami, dan disahkan secara sosial, sebagaimana
mestinya. Hingga Gloria Steinem dan CIA datang bersama-sama,” jelas Makow
panjang lebar.
Dalam buku The Book of
Hiding Gender Ethnicity Annihilation and Esther Biblical Limitdikatakan: Although
some may view the Christian Coalition as an extreme example, it represents a
much more common tendency in contemporary culture—both within and without the
academy—to conceive of biblical literature primarily as moral literature, that
is, as literature that provides role models and guidelines for how to live
one’s life, socially, sexually, spiritually, and so on. With regard to the book
of Esther, this tendency is clearly and poignantly evident in the passage from
Sedgwick. And we must not forget that, although it is primarily in non-Jewish
interpretive circles that one finds moralistic repudiations of the Jewishness
of the text, both Jewish and Christian traditions have used Esther to shore up
normative representations of women as objectively beautiful, passive, obedient
(Meskipun beberapa mungkin melihat Koalisi Kristen sebagai contoh ekstrim, itu
merupakan kecenderungan yang jauh lebih umum dalam budaya kontemporer dan
tanpa akademi untuk memahami sastra Alkitab terutama sebagai sastra moral,
yaitu, sebagai sastra yang memberikan model peran dan pedoman cara hidup
seseorang, secara sosial, seksual, spiritual, dan sebagainya. Berkenaan dengan
kitab Ester, kecenderungan ini jelas dan pilu jelas dalam bagian dari Sedgwick.
Dan kita tidak boleh lupa bahwa, meskipun terutama di kalangan non-Yahudi
penafsiran bahwa orang menemukan repudiations moralistik Keyahudian dari teks,
baik tradisi Yahudi dan Kristen telah digunakan Esther untuk menopang
representasi normatif perempuan sebagai obyektif cantik, pasif, patuh, rela
berkorban. Artinya Ester ini memandang perempuan sebagai objek
normative yang memiliki karakteristik seperti telah disebutkan diatas, dan ia
menyatakan demikian karena berlandaskan apa yang telah tertulis dalam Bible
sebagai sumber ajaran moral.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar