Jumat, 19 Desember 2014

RELASI GENDER DALAM AGAMA YAHUDI
a.    Kesetaraan dan ketidak setaraan gender dalam perjanjian lama dan kitab-kitab Yahudi
Didalam talmud teradisi yahudi mengangkat perempuan setara denga laki-laki bahkan digambarkan dengan manusia yang kuat, baik dan sopan. Seperti bhatsheba, sebagai perempuan yang pandai, deborah sebagai nabi perempuan, Ruth sebagai orang terpandang dan ester seorang juru selamet rakyatnya.
Namun dalam tradisi yahudi juga ditemukan ajaran bahwa perempuan merupakan asal mula dosa dan juga melalui perempuan manusia akan mati. Ketidak setaraan gender dalam agama Yahuudi bisa terlihat dalam kitab suci perjanjian lama dengan pandangan Alah sebagai bapak yang maha kuasa suka marah, dan menghukum. Pandangan Alah sebagai bapak dalam masyarakat yahudi ini menunjukkan pada dominasi laki-laki, sehingga dasar pembuat pranata kehidupan juga atas dasar laki-laki. Dominasi ini menciptakan ketidak adilan dalam masyarakat yang menggeser kaum perempuan pranata yang dibuat atas dasar laki-laki tersebut dianggap suatu kebenaran.
Kitab kejadian, keluaran, I Raja-raja, II Raja-raja, yna diaesaya, yeremia, yehezkiel, hosea, dalam perjanjian lama sangat sarat dengan peringatan akan penguasa sewenang-wenang yang membuat pranata kehidupan tidak manusiawi. Martabat perempuan sama dengan pmebantu, yahudi menganggap perempuan adalah sumber laknat karena dialah yang menyebabkan adam diusir dari syurga.
Kejadian penciptaan adam dan hawa dalam konsepsi yahudi diuraikan dalam perjanjian lama, kejadian 2:4 – 3:24 yang intinya : Tuhan melarang mereka memakan buah dari pohon terlarang, kemudian ular datang dan membujuk hawa untuk memakannya, dan selanjutnya hawa membujuk adam untuk makan buah tersebut bersamanya. Ketika Tuhan menegur Adam atas apa yang dilakukannya tersebut, adam meletakkan semua kesalahan kepada hawa, “wanita yang kau berikan kepada saya dia memberi buah tersebut kepada saya lalu saya memakannya”. Akibatnya Tuhan berkata kepada Hawa, “saya akan menambah kesusahan kepadamu pada waktu kau hamil dan pada waktu kau melahirkan. Hasratmu hanya untuk suamimu dan dia akan mengatur kamu”.
Kepada Adam Tuhan berfirman : “ karena kamu mendengarkan pa yang dikatakan istrimu sehingga kamu mematuhiyadan memakan buah tersebut, saya turunkan kamu kebumi, kamu akan memakan segala sesuatu dibumi sampa kamu mati”.
b.   Citra Perempuan Dalam Tradisi Yahudi
Kedudukan seorang istri dan anak perempuan dalam tradisi yahudi sangat lemah, poligami dalam hukum perkawinan yahudi tidak dibatasi jumlahnya. Seorang istri wajib melakukan semua pekerjaan rumah tangga, baik yang berat aupun yang ringan, dan kewajiban ini harus dilaksanakan dengan taat. Seorang wanita yang sudah dikawinkan seolah-olah dibeli oleh suaminya dari bapaknya dan suaminya menjadi tuannya, semua harta benda menjadi milik suaminya istri tidak berhak memiliki apapun selain maskawin yang diterimakan kepadanya.
Peran perempuan adalah simbol yag mendalam sejauh mana masyarakat Yahudi menerima atau menolak modernitas dan weternisasi, artinya adalah masyarakat Yahudi kontemporer justru perempuan mendapatkan penilaiian khusus dengan menjadi sebuah simbol diterima atau ditolaknya modernitas dan westernisasi.
c.    Teologi Feminis Dan rekonstruksi Peran Perempuan Dalam Kehidupan Masyarakat Yahudi.
Seorang Tokoh Psikoanalisis asal jerman, Erich Fromm yang menganut Yahudi menyatakan hubungan kaum laki-laki dan perempuan adalah hubungan antar sebuah kelompok yang menang dan yang kalah. Jika dilihat pada realitas zaman sekarang ini akan terasa lucu jika mengatakan hal demikian, karena perempuan dikota-kota besar tidak tampak dan idak terlihat seperti kelompok yang kalah. Dia mengatakan kaum perempuan telah menyelesaikan emansipasinya, dan oleh sebab itu sejajar dengan kaum laki-laki.
Tokoh selanjutya, Betty Friendan seorang tokoh feminis liberal yang ikut mendirikan dan kemudian diangkat menjadi presiden pertama National Organization for woman pada tahun 1966. Ia pernah mengatakan: “jadi saya pikir pada saat itu setiap wanita akan beraksi dengan berbagai cara yang berbeda beberapa wanita pada saat itu tidak akan memasak, sedangkan yang alainnya akan terlibat dialog dengan suami mereka. Diseluruh negri beberapa wanita akan keluar dan akan berunjuk rasa mereka akan menekan anggota kongres agar meluluskan Undang-Undang yang mempengaruhi wanita. Kalimat tersebut diucapkan Betty Friendan untuk menyambut demo besar – besaran wanita pada taggal 26 agustus 1970 diamerika serikat. Bahkan ia menjadi pemimpin aksi untuk mendobrak UU diamerika yang melarang aborsi dan pengembangan sifat-sifat maskulin oleh wanita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar