RELASI GENDER
DALAM AGAMA YAHUDI
a.
Kesetaraan
dan ketidak setaraan gender dalam perjanjian lama dan kitab-kitab Yahudi
Didalam
talmud teradisi yahudi mengangkat perempuan setara denga laki-laki bahkan
digambarkan dengan manusia yang kuat, baik dan sopan. Seperti bhatsheba,
sebagai perempuan yang pandai, deborah sebagai nabi perempuan, Ruth sebagai
orang terpandang dan ester seorang juru selamet rakyatnya.
Namun
dalam tradisi yahudi juga ditemukan ajaran bahwa perempuan merupakan asal mula
dosa dan juga melalui perempuan manusia akan mati. Ketidak setaraan gender
dalam agama Yahuudi bisa terlihat dalam kitab suci perjanjian lama dengan
pandangan Alah sebagai bapak yang maha kuasa suka marah, dan menghukum.
Pandangan Alah sebagai bapak dalam masyarakat yahudi ini menunjukkan pada
dominasi laki-laki, sehingga dasar pembuat pranata kehidupan juga atas dasar
laki-laki. Dominasi ini menciptakan ketidak adilan dalam masyarakat yang
menggeser kaum perempuan pranata yang dibuat atas dasar laki-laki tersebut
dianggap suatu kebenaran.
Kitab
kejadian, keluaran, I Raja-raja, II Raja-raja, yna diaesaya, yeremia,
yehezkiel, hosea, dalam perjanjian lama sangat sarat dengan peringatan akan
penguasa sewenang-wenang yang membuat pranata kehidupan tidak manusiawi.
Martabat perempuan sama dengan pmebantu, yahudi menganggap perempuan adalah
sumber laknat karena dialah yang menyebabkan adam diusir dari syurga.
Kejadian
penciptaan adam dan hawa dalam konsepsi yahudi diuraikan dalam perjanjian lama,
kejadian 2:4 – 3:24 yang intinya : Tuhan melarang mereka memakan buah dari
pohon terlarang, kemudian ular datang dan membujuk hawa untuk memakannya, dan
selanjutnya hawa membujuk adam untuk makan buah tersebut bersamanya. Ketika
Tuhan menegur Adam atas apa yang dilakukannya tersebut, adam meletakkan semua
kesalahan kepada hawa, “wanita yang kau berikan kepada saya dia memberi buah
tersebut kepada saya lalu saya memakannya”. Akibatnya Tuhan berkata kepada
Hawa, “saya akan menambah kesusahan kepadamu pada waktu kau hamil dan pada
waktu kau melahirkan. Hasratmu hanya untuk suamimu dan dia akan mengatur kamu”.
Kepada
Adam Tuhan berfirman : “ karena kamu mendengarkan pa yang dikatakan istrimu
sehingga kamu mematuhiyadan memakan buah tersebut, saya turunkan kamu kebumi,
kamu akan memakan segala sesuatu dibumi sampa kamu mati”.
b.
Citra
Perempuan Dalam Tradisi Yahudi
Kedudukan
seorang istri dan anak perempuan dalam tradisi yahudi sangat lemah, poligami
dalam hukum perkawinan yahudi tidak dibatasi jumlahnya. Seorang istri wajib
melakukan semua pekerjaan rumah tangga, baik yang berat aupun yang ringan, dan
kewajiban ini harus dilaksanakan dengan taat. Seorang wanita yang sudah
dikawinkan seolah-olah dibeli oleh suaminya dari bapaknya dan suaminya menjadi
tuannya, semua harta benda menjadi milik suaminya istri tidak berhak memiliki
apapun selain maskawin yang diterimakan kepadanya.
Peran
perempuan adalah simbol yag mendalam sejauh mana masyarakat Yahudi menerima
atau menolak modernitas dan weternisasi, artinya adalah masyarakat Yahudi
kontemporer justru perempuan mendapatkan penilaiian khusus dengan menjadi
sebuah simbol diterima atau ditolaknya modernitas dan westernisasi.
c. Teologi Feminis Dan rekonstruksi Peran
Perempuan Dalam Kehidupan Masyarakat Yahudi.
Seorang
Tokoh Psikoanalisis asal jerman, Erich Fromm yang menganut Yahudi menyatakan
hubungan kaum laki-laki dan perempuan adalah hubungan antar sebuah kelompok
yang menang dan yang kalah. Jika dilihat pada realitas zaman sekarang ini akan
terasa lucu jika mengatakan hal demikian, karena perempuan dikota-kota besar
tidak tampak dan idak terlihat seperti kelompok yang kalah. Dia mengatakan kaum
perempuan telah menyelesaikan emansipasinya, dan oleh sebab itu sejajar dengan
kaum laki-laki.
Tokoh
selanjutya, Betty Friendan seorang tokoh feminis liberal yang ikut mendirikan
dan kemudian diangkat menjadi presiden pertama National Organization for woman
pada tahun 1966. Ia pernah mengatakan: “jadi saya pikir pada saat itu setiap
wanita akan beraksi dengan berbagai cara yang berbeda beberapa wanita pada saat
itu tidak akan memasak, sedangkan yang alainnya akan terlibat dialog dengan
suami mereka. Diseluruh negri beberapa wanita akan keluar dan akan berunjuk
rasa mereka akan menekan anggota kongres agar meluluskan Undang-Undang yang
mempengaruhi wanita. Kalimat tersebut diucapkan Betty Friendan untuk menyambut
demo besar – besaran wanita pada taggal 26 agustus 1970 diamerika serikat.
Bahkan ia menjadi pemimpin aksi untuk mendobrak UU diamerika yang melarang
aborsi dan pengembangan sifat-sifat maskulin oleh wanita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar