RELASI GENDER
DALAM AGAMA KRISTEN
Fakta kehidupan
menunjukan bahwa pranata kehidupan diatur atas dasar kepentingan kelompok
tertentu, yaitu kelompok yang kuat dan berkuasa. Hal seperti ini memberi bukti
bahwa pranata kehidupan merupakan konstruksi sosial budaya buatan manusia, yang
berbeda atas dasar waktu dan tempat. Pranata kehidupan buatan manusia ini
kemudian disebut kebudayaan. Kebudayaan selalu mengalami pergeseran atau
perubahan, mulai dari kehidupan sosial masyarakat sampai menyentuh kehidupan
keluarga. Pergeseran budaya dalam keluarga tidak hanya menyangkut pada
penelusuran garis keturunan anak, tetapi juga menyangkut pengaturan kehidupan.
Pada umumnya pengaturan kehidupan ditentukan oleh laki-laki. Akibat dari
pranata kehidupan semacam ini kemudian terjadi relasi timpang antara laki-laki
dan perempuan. Relasi yang timpang ini membentuk falsafah hidup dominan
laki-laki. Ketika kebudayaan dalam perkembangannya makin tidak adil dan tidak
manusiawi, maka manusia berusaha meluruskan antara lain melalui agama.
Salah satunya dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana
pandangan-pandangan agama Kristen mengenai relasi gender dengan menelisik fakta
yang terjadi. Lebih mengkerucut lagi tulisan ini akan mengarah kepada pandangan
mengenai perempuan dan bagaimana pandangan itu mendorong perjuangan perempuan
Kristen untuk mencapai kesetaraan gender.
a.
Kesetaraan
Perempuan Dalam Perjanjian Baru
·
Pada
surat yang dikirimkan kepada orang-orang Galasia, perempuan dan laki-laki
adalah satu dalam Yesus Kristus (Woman and Man are one in Christ Jesus)
(Corintus 3: 28).
·
St. Paul
membolehkan perempuan untuk membantunya dalam urusan kependetaan dan menjanjikannya
untuk berkhutbah dan melakukan pengajaran agama (Romans 16:1-2, 1 Corintians
11:5, Titus 2:3).
·
Secara
gamblang Al-kitab mengajukan argumentasi mengapa laki-laki harus memperlakukan
perempuan dengan respect, karena perempuan adalah partner yang lemah dan
merupakan hadiah dari kehidupan yang penuh keindahan (1 Petter 3:7).
b.
Ketidaksetaraan Perempuan Dalam Perjanjian Baru
·
Dalam
Alkitab disebutkan bahwa: “Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala
dari perempuan adalah laki-laki dan kepada dari Kristus ialah Allah sebab
laki-laki tidak berasal dari perempuan, tapi perempuan berasal dari laki-laki.”
(1 Kor 11:3, 8).
·
Bible
menyatakan “Perempuan (Hawa) yang tergoda Iblis untuk memakan buah pohon
pengetahuan dan menyebabkan laki-laki (Adam) ikut memakan buah tersebut dan
melanggar larangan Tuhan” (1 Tim 2: 13). Karena itulah, Alkitab selalu
menyalahkan perempuan atas dosa yang dilakukan Adam. Dan yang menarik, meski
Adam juga memakan buah larangan tapi hanya Hawa yang dinyatakan berlumuran
dosa, sementara Adam tidak. Alkitab menjelaskan, “lagi pula bukan Adam yang
tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (1
Timotius pasal 2 ayat 14).
- Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Timotius 2: 11-12).
- Alkitab beranggapan bahwa seorang perempuan yang mengalami menstruasi dianggap najis dan apapun yang disentuhnya telah terkena najis (Efesus 5: 19-27).
- Menstruasi dipandang sebagai dosa sehingga perempuan yang mengalaminya harus melaksanakan upacara korban penghapusan dosa (Efesus pasal 5 ayat 28-30)
c.
Status dan Peran
Perempuan dalam Perjanjian Baru
·
Lukas
8:1-3 menunjukkan bahwa Yesus mengijinkan beberapa wanita untuk menjadi teman
seperjalanannya. Ia memberi semangat pada Martha dan Maria untuk duduk pada
kaki-Nya sebagai murid-murid-Nya (Luk 10:38-42).
Wanita-Wanita
didalam Kehidupan Kristus:
1. Maria: Ibu
Dari Kristus
2. Hana,
seorang nabiah
3. Wanita yang
Diampuni: Seorang Pemberita Injil
4. Wanita yang
Mendukung Yesus
5.
Wanita-wanita di dekat Salib
6. Para Wanita
Yang Menyiarkan Kebangkitan
d.
Status
Dan Peran Perempuan Dalam Perspektif
Teologi Kristen
·
Mereka
percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakuakan dosa asal dan dia
bertanggungjawab atas pengusiran Adam dari Surga.
·
Tertalian
percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan
mentaati setan dan menentang Tuhan.
·
Bagian
Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim
sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of
humanity adalah Galatia 3:2839 yang berbunyi: “Dalam hal ini tidak ada
orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada
laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus
Yesus.” Galatia 3:28 dipandang sebagai
ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria.
E. Partisipasi Perempuan di dalam Gereja
•
1 Korintus 11:2-16 berbicara tentang larangan bagi perempuan untuk
mengambil bagian aktif dalam kegiatan doa dan bernubuat.
•
1 Korintus 14:33-35 dan 1 Timotius 2:11-12. Ini sering dijadikan
alasan untuk membatasi kesempatan pada perempuan untuk terlibat secara aktif
dalam kepemimpinan gereja.
•
Pada ibadah atau kegiatan jemaat, perempuan harus berdiam diri,
tidak boleh berbicara dan harus tetap pada perintah. Kalau ada yang ingin
ditanyakan atau belum jelas, tidak boleh langsung ditanyakan di tempat ibadah,
tetapi harus minta penjelasan suaminya di rumah, sebab tidak sopan bagi
perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat.
F. Peran Teologi
Feminis Kristen dalam Gerakan reformasi sosial keagamaan untuk kesetaraan
Gender Abad ke-20.
•
Tahun 1820-an menjadi titik sejarah bangkitnya perempuan Kristen
untuk mencapai persamaan di bidang pendidikan.
•
Tahun 1830-an dan 1840-an, banyak perempuan di Amerika menyadari
perlunya pemahaman yang berbeda terhadap doktrin-doktrin agama yang ada dalam
kitab suci.
•
Sarah Grimke, pejuang anti perbudakan dan penulis hak asasi
perempuan yang terkemuka, menduga keras bahwa bias maskulin dari penafsiran
Kitab Suci turut terlibat dalam penindasan perempuan.
•
Tahun 1837, ia mendesak perlunya ilmu pengetahuan baru yang dikenal
dengan feminis.
•
Antoinette Brown, salah satu diantara perempuan-perempuan pertama
yang kuliah teologi di Oberlin College, membahas surat-surat Rasul Paulus
dengan pertanyaan feminis (Zikmund, 1998: 25-26).
•
Awal
abad 20, para sarjana perempuan di bidang Kitab Suci sudah memperlihatkan
kemampuan ilmiah yang kuat di bidangnya, namun tidak pernah secara sadar
bersikap feminis. Baru pada tahun 1970-an anggota perempuan dari the Society of
Biblical Literaturemenegaskan bahwa pendekatan hermeneutic dari feminis
bermanfaat untuk karya mereka (Zikmund, 1998:27).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar