Jumat, 19 Desember 2014

RELASI GENDER DALAM AGAMA KRISTEN

Fakta kehidupan menunjukan bahwa pranata kehidupan diatur atas dasar kepentingan kelompok tertentu, yaitu kelompok yang kuat dan berkuasa. Hal seperti ini memberi bukti bahwa pranata kehidupan merupakan konstruksi sosial budaya buatan manusia, yang berbeda atas dasar waktu dan tempat. Pranata kehidupan buatan manusia ini kemudian disebut kebudayaan. Kebudayaan selalu mengalami pergeseran atau perubahan, mulai dari kehidupan sosial masyarakat sampai menyentuh kehidupan keluarga. Pergeseran budaya dalam keluarga tidak hanya menyangkut pada penelusuran garis keturunan anak, tetapi juga menyangkut pengaturan kehidupan. Pada umumnya pengaturan kehidupan ditentukan oleh laki-laki. Akibat dari pranata kehidupan semacam ini kemudian terjadi relasi timpang antara laki-laki dan perempuan. Relasi yang timpang ini membentuk falsafah hidup dominan laki-laki. Ketika kebudayaan dalam perkembangannya makin tidak adil dan tidak manusiawi, maka manusia berusaha meluruskan antara lain melalui agama.
Salah satunya dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana pandangan-pandangan agama Kristen mengenai relasi gender dengan menelisik fakta yang terjadi. Lebih mengkerucut lagi tulisan ini akan mengarah kepada pandangan mengenai perempuan dan bagaimana pandangan itu mendorong perjuangan perempuan Kristen untuk mencapai kesetaraan gender.
a.    Kesetaraan Perempuan Dalam Perjanjian Baru
·         Pada surat yang dikirimkan kepada orang-orang Galasia, perempuan dan laki-laki adalah satu dalam Yesus Kristus (Woman and Man are one in Christ Jesus) (Corintus 3: 28).
·         St. Paul membolehkan perempuan untuk membantunya dalam urusan kependetaan dan menjanjikannya untuk berkhutbah dan melakukan pengajaran agama (Romans 16:1-2, 1 Corintians 11:5, Titus 2:3).
·         Secara gamblang Al-kitab mengajukan argumentasi mengapa laki-laki harus memperlakukan perempuan dengan respect, karena perempuan adalah partner yang lemah dan merupakan hadiah dari kehidupan yang penuh keindahan (1 Petter 3:7).
b.   Ketidaksetaraan Perempuan Dalam  Perjanjian Baru
·         Dalam Alkitab disebutkan bahwa: “Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepada dari Kristus ialah Allah sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tapi perempuan berasal dari laki-laki.” (1 Kor 11:3, 8).
·         Bible menyatakan “Perempuan (Hawa) yang tergoda Iblis untuk memakan buah pohon pengetahuan dan menyebabkan laki-laki (Adam) ikut memakan buah tersebut dan melanggar larangan Tuhan” (1 Tim 2: 13). Karena itulah, Alkitab selalu menyalahkan perempuan atas dosa yang dilakukan Adam. Dan yang menarik, meski Adam juga memakan buah larangan tapi hanya Hawa yang dinyatakan berlumuran dosa, sementara Adam tidak. Alkitab menjelaskan, “lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (1 Timotius pasal 2 ayat 14).
  • Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Timotius 2: 11-12).
  • Alkitab beranggapan bahwa seorang perempuan yang mengalami menstruasi dianggap najis dan apapun yang disentuhnya telah terkena najis (Efesus 5: 19-27).
  • Menstruasi dipandang sebagai dosa sehingga perempuan yang mengalaminya harus melaksanakan upacara korban penghapusan dosa (Efesus pasal 5 ayat 28-30)
c.    Status dan Peran Perempuan dalam Perjanjian Baru
·         Lukas 8:1-3 menunjukkan bahwa Yesus mengijinkan beberapa wanita untuk menjadi teman seperjalanannya. Ia memberi semangat pada Martha dan Maria untuk duduk pada kaki-Nya sebagai murid-murid-Nya (Luk 10:38-42).
Wanita-Wanita didalam Kehidupan Kristus:
1. Maria: Ibu Dari Kristus
2. Hana, seorang nabiah
3. Wanita yang Diampuni: Seorang Pemberita Injil
4. Wanita yang Mendukung Yesus
5. Wanita-wanita di dekat Salib
6. Para Wanita Yang Menyiarkan Kebangkitan 
d.   Status Dan Peran Perempuan Dalam Perspektif  Teologi Kristen
·         Mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakuakan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas pengusiran Adam dari Surga.
·         Tertalian percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan.
·         Bagian Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity adalah Galatia 3:2839 yang berbunyi: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”  Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria.
E. Partisipasi Perempuan di dalam Gereja
      1 Korintus 11:2-16 berbicara tentang larangan bagi perempuan untuk mengambil bagian aktif dalam kegiatan doa dan bernubuat.
      1 Korintus 14:33-35 dan 1 Timotius 2:11-12. Ini sering dijadikan alasan untuk membatasi kesempatan pada perempuan untuk terlibat secara aktif dalam kepemimpinan gereja.  
      Pada ibadah atau kegiatan jemaat, perempuan harus berdiam diri, tidak boleh berbicara dan harus tetap pada perintah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau belum jelas, tidak boleh langsung ditanyakan di tempat ibadah, tetapi harus minta penjelasan suaminya di rumah, sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat.
F. Peran Teologi Feminis Kristen dalam Gerakan reformasi sosial keagamaan untuk kesetaraan Gender Abad ke-20.
      Tahun 1820-an menjadi titik sejarah bangkitnya perempuan Kristen untuk mencapai persamaan di bidang pendidikan.
      Tahun 1830-an dan 1840-an, banyak perempuan di Amerika menyadari perlunya pemahaman yang berbeda terhadap doktrin-doktrin agama yang ada dalam kitab suci.
      Sarah Grimke, pejuang anti perbudakan dan penulis hak asasi perempuan yang terkemuka, menduga keras bahwa bias maskulin dari penafsiran Kitab Suci turut terlibat dalam penindasan perempuan.
      Tahun 1837, ia mendesak perlunya ilmu pengetahuan baru yang dikenal dengan feminis.
      Antoinette Brown, salah satu diantara perempuan-perempuan pertama yang kuliah teologi di Oberlin College, membahas surat-surat Rasul Paulus dengan pertanyaan feminis (Zikmund, 1998: 25-26).
      Awal abad 20, para sarjana perempuan di bidang Kitab Suci sudah memperlihatkan kemampuan ilmiah yang kuat di bidangnya, namun tidak pernah secara sadar bersikap feminis. Baru pada tahun 1970-an anggota perempuan dari the Society of Biblical Literaturemenegaskan bahwa pendekatan hermeneutic dari feminis bermanfaat untuk karya mereka (Zikmund, 1998:27).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar