Senin, 15 Desember 2014

TOKOH-TOKOH PEREMPUAN DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM

    
Membincangkan peran gerakan muslimah dalam kebangkitan umat seakan membuka kembali catatan sejarah panjang perjuangan Islam. Sebagaimana diketahui, sejak Rasulullah Saw di utus untuk menyebarluaskan risalah Islam, para muslimah generasi awal telah terlibat aktif dalam pergerakan dakwah bersama kaum muslimin lainnya untuk melakukan transformasi social, mengubah masyarakat jahiliyah yang paganistik menjadi masyarakat Islam yang Rabbani.
Sejarah mencatat nama-nama besar dari masa Nabi Saw., masa Khulafaurasyiddin, hingga masa modern. Nama-nama tersebut adalah Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq, Fatimah az-Zahra, Sumayyah binti Khatbath, Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah, Mariam Jamileeh, Amina Wadud, Fatima Mersianissi. Tak satupun dari mereka yang ingin—meski sejenak—tertinggal dari satu peristiwa pun, apalagi berlepas diri dari tanggung jawab memperjuangkan dienul haq.
Karenanya tak berlebih jika dikatakan bahwa merekalah pelopor dan peletak dasar pilar-pilar pergerakan muslimah yang hakiki, yang layak menjadi teladan pergerakan muslimah dari zaman ke zaman. Di atas pilar-pilar inilah muslimah generasi sesudah mereka membangun kekuatan. Hanya saja yang menjadi target perjuangan mereka tentu bukan lagi menegakkan system kehidupan Islam, melainkan bagaimana berupaya mempertahankan eksistensinya agar kemuliaan umat tetap terjaga. Akan tetapi uniknya, pada saat yang sama, merekapun ternyata berhasil mencetak generasi terbaik—generasi mujahid dan mustahid—yang mampu membangun peradaban Islam yang tinggi, yang mengalahkan peradaban-peradaban lainnya di dunia dalam rentang waktu yang sangat panjang. Tak heran jika umat Islam pada rentang tersebut betul-betul bisa tampil sebagai “khoiruummah”
A. Masa Awal Peradaban Islam (Periode Nabi dan Khulafaurrasyidin)
1. Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq
            Perempuan yang lurus dan benar. Ia dipanggil Ummul Mu’minin dan diberi kunyah Ummu Abdillah. Ada yang menyebutkan bahwa nama panggilannya Humaira. tetapi Rasulullah Saw, lebih sering memanggilnya Bintush-Shiddiq. Ayah Aisyah adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Ibunya bernama Ummu Ruman. Ibnu Sa’ada mengatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada awal tahun ke-4 setelah Muhammad diangkat menjadi rasul dan dinikahi Rasulullah Saw, 10 tahun kemudian.
            Prestasi Intelektual Aisyah sangat menonjol di kalangan kaum perempuan. Bahkan, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa kecerdasan, pemahaman, dan kekuatan pemikiran Aisyah berada di atas orang-orang yang hidup sezaman dengannya, baik laki-laki ataupun perempuan. Meskipun Aisyah masih berada dalam usia yang relatif muda ketika itu, ia tidak pernah membuang kesempatan untuk belajar. Ia masih suka bermain dengan teman sebayanya,  namun tidak ada ajaran islam yang disia-siakan.
Intelektual Aisyah R.a:
v  Pengetahuan Aisyah r.a tentang Al-Qur’an
Aisyah memahami makna setiap Al-Qur’an, menentukan batas kandungannya, mengetahui perbedaan al-ahruf as-sab’ah “huruf yang tujuh, serta mengerti bagaimana menarik kesimpulan hukum darinya.
v  Pengetahuan Aisyah r.a tentang Al-Hadis
Aisyah merupakan perempuan yang banyak meriwayatkan hadis, ia meriwayatkan 2210 hadis. Aisyah terkenal sangat teliti dan berul-betul memahami apa yang ia riwayatkan.
v  Pengetahuan Aisyah r.a tentang Fiqih dan Qiyas
Ia menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber hukum pertama, Sunnah sebagai sumber hukum kedua, dan Qiyas menempati posisi ketiga.
Selain itu pengetahuan Aisyah r.a dalam bidang Tauhid dan Aqidah pun tidak diragukan.
2. Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah
            Al-Khansa’, namun nama sebenarnya adalah Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah. Al Khansa’ merupakan seorang sahabat wanita yang mulia dan sangat terkenal sebagai penyair.
            Al-Khansa’ wanita yang bijaksana dan cerdas. Semua orang mengetahui kedudukan dan keahliannya yang luar biasa dalam berpuisi. Bahkan, semua sastrawan sepakat bahwa tidak ada wanita yang memiliki kekuatan puisi yang lebih hebat dari Al-Khansa’, baik di masa lalu maupun masa berikutnya. Selain mahir berpuisi, sebenarnya Al-Khansa’ juga memiliki kepribadian yang sangat kuat, akhlak mulia, pandangan yang tajam, sabar dan berani.
            Pengorbanannya yang begitu tulus ketika ia harus ditinggalkan oleh keempat putranya dalam keadaan mati Syahid. Namun ketika mendengar kabar itu semua ia berusaha tetap tegar dan sabar dalam menerimanya. Semua itu dapat ia lakukan karena Islam yang selalu menguatkannya.
3. Fatimah az-Zahra
             Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra' dan Mikraj beliau. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.
             Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.
            Ketika ia mulai beranjak dewasa, tiba saatnya ia beranjak pindah ke pelaminan. Ia menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Sepanjang perjalanan hidupnya, keluarga Ali bin Abi Thalib dikatakan sebagai keluarga teladan. Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya.
Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya. Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.          
            Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.
Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.
B.        Masa Kekhalifahan Islam
 Sultanah Mamluk (Radhiyyah dan Syajarat al-Durr)
       Karir mereka dimulai pada waktu yang hampir sama. Radhiyyah memegang keskuasaan didelhi tahun 634/1236 dan syahjarat menaiki tahta mesir 14 tahun kemudian pada 648/1250. Mereka berdua meraih tahta berkat kekuatan militer bangsa maluk yaitu bekas budak-budak turki yang sealama berabad-abad mengabdi di istana yang telah memperbudak mereka. Namun pada akhirnya berhasil menggantikan para majikan mereka. Radhiyyha berhasil meraih tahta yahnya, sultan Iltutmisy, raja delhi, dan syahjarat al-Durr megambil alih tahata dari suaminya, amlik al-Shalaehn dan penguasa Ayyubiyah terakhir.
Raddiyyah menaiki tangga menuju kekuasaan dalam keadaanyang sangat berbeda.  Tidak seperti syahjarat al-Dur, dia bukanlah budak namun putri sultan.ayahnya tiba di India sebagai budak dan kebangkitannya sehinggas smenjadi sultan merupakan propaganda yang sangat bagus bagi islam.
 Khotu Mongol
Sebagaimana yang didokumnetasikan dengan baik oleh sejarah Badriye Ucok Un, setelah serangan mongol takhta negeri-negeri muslim dikuasai oeh wanita dalam jumlah yang mengesankan dengan hak-hak istimewadalam khutbah dan pendcetakan mata uang.dalam hamoir setiap kasus ini terjadi berkat para pengusa abru, yaitu pangeran-pangeran mongol. Memang benar bahwa yang disebut terakhir itu tampak lebih mendapatkan masalah dibandingkan dengan para khlaifah Abbasiyyah dalam mempercayakan pemerintahan negara kepada kaun wanita. Pertama-tama adalah ratu dari dinasti Kutlugh-Khanidm kutlugh Katun (juga dinamakan Turkan Katun dalam dokumen-dokumen) dan putrinyapadsiya Khatun (yang kadang-kadang namanya kita ketahui sebagai Safwat al-Din Khatun. Dalam abad tiga belas dan keempat belas dinasti kutlugh-kHanid memerintah Karman, sebuah propinsi persia yang terletak disebelah barat daya grun besar, dasyt i-lut.
Para Ratu Kepulauan (Khadijah)
Tujuh irang sultanah memerintah wilayah Hindia tiga dimaladewa dan empat di Indonesia. Yang pertama sultanahKhadijah putri sultan shalah al-Din shalih al-Bendjali, emerintah dari 1347-1379. Berikut adalah pemarpran Ibn Batutah tehadap Khadijah. “ para wanita ini tidak pernah meninggalkan negeri merka dan aku belum pernah melihat wanita lebih menyenangkan ditempat lain manapun didunia ini. Seseorang wanita ini tidak menyerahkan kepada orang lain lain mengenai kepercayaan atas suaminya.
Meskipun ada ketentuan-ketentuan mekkah tentang khalifah dan opurtunisme dari pelaku politik, beberapa perepuan telah sah memegang kekuasaan, menaiki tahta dari abad 13-17.dua yang pertama Radhiyyah dan syahjarat al-Dur adalah wanita pada masa dinasti Mamluk dan enam sultan merupakan pengganti imeprium abbasiyah dan yang terakhir adalah sultanah diindonesia dan maladewa.
C.        Masa Kejatuhan kekhalifah
Sumayyah binti Khatbath r.a
Wanita Pertama yang Menyatakan Keislamannya Secara Terbuka
Sumayyah ra. adalah orang yang pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka dan menerima penyiksaan dengan tabah demi tetap bertahan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Dia berada di garis depan wanita-wanita mukmin yang tulus dan segera menerima Islam, sehingga meraih kehormatan sebagai orang-orang pertama yang masuk Islam dan mendapat kabar gembira yakni masuk surga.
Ibnu Abdul Barr rahimahullah menyanjung Sumayyah dan menyebut kesabaran dan ketegarannya. Ia menyatakan, “Sumayyah termasuk golongan para sahabat yang mengalami penyiksaan di jalan Allah dan sabar terhadap penderitaan yang menimpanya. Dia termasuk wanita yang berbai’at, baik dan mulia. Semoga Allah mengasihinya”.
Abdullah menuturkan, “Ada tujuh orang yang pertama-tama menyatakan keislamannya secara terbuka, Rasulullah saw., Abu Bakar, ‘Ammar, Ibu ‘Ammar (Sumayyah), Shuhaib, Bilal dan Miqdad. Rasulullah saw. dilindungi oleh Allah sawt. melalui pamannya, dan Abu Bakar ra. dilindungi oleh Allah swt. melalui kaumnya, sedangkan lima orang lainnya eisiksa oleh orang-orang musyrik. Orang-orang musyrik memaksa mereka memakai baju besi lalu membiarkan tubuh mereka terpanggang oleh sinar matahari. Mereka semua tidak berdaya sehingga mengikuti apa yang diinginkan oleh orang-orang musyrik itu, kecuali Bilal. Dia merasa siksaan itu masih terlalu ringan, selama menjalaninya karena Allah. Dia tidak menghiraukan siksaan yang dilakukan oleh kaumnya, sehingga mereka menyerahkan Bilal kepada anak-anak yang menyeretnya di sepanjang jalan kota Makkah. Sementara Bilal terus mengucapkan, “Ahad… Ahad… (Allah yang maha Esa)”.
Orang-orang terus menyiksa Sumayyah, suaminya Yasir dan putranya ‘Ammar (semoga Allah meridhai mereka bertiga). Tapi, mereka menerimanya dengan tabah dan tegar karena yakin bahwa siksaan itu diterima karena mereka bertahan di jalan Allah swt.
Pada suatu hari, Rasulullah saw. lewat dan melihat mereka sedang disiksa. Beliau bersabda, “Berbahagialah, wahai keluarga ‘Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuka surga”. Semilir angin surge telah menerpa hati mereka hingga menyejukkan bara penyiksaan yang sedang mereka rasakan.
Saat itulah, mereka mlai merasa lebih tenang dan nyaman daripada rasa payah karena siksaan yang mereka terima. Mereka menikmati penyiksaan karena bertahan di jalan Allah swt. dan terus merindukan kenikmatan surga sepanjang siang dan malam.
Muslimah Pertama yang Mati Syahid
Abu jahal merupakan orang yang berperan besar dalam menggalang orang-orang Quraisy untuk menyiksa kaum muslimin yang lemah itu. Jika dia mendengar seseorang yang cukup terpandang dan kuat telah masuk Islam, maka dia akan mengecam dan menghinanya. Dia berkata, “Engkau telah meninggalkan agama orang tuamu sendiri padahal itu lebih baik darimu. Kami akan menghinamu, memandang sebelah mata pendapatmu, dan menjatuhkan kehormatanmu”. Namun. Jika yang masuk islam tersebut seorang pedagang, maka Abu Jahal akan berkata padanya, “Kami akan mempersempit peluang dagangmu dan menghancurkan kejayaanmu”. Sedangkan jika yang masuk Islam adalah orang lemah atau miskin, maka dia langsung memukulinya dan menggalang orang-orang Quraisy untuk memusuhinya. Semoga Allah melaknat dan merendahkannya.
Sementara Sumayyah ra., sahabat Rasulullah saw. yang agung, tetap tegar dalam menerima siksaan yang tidak pernah berhenti. Ia sabar terhadap intimidasi yang dilakukan oleh Abu Jahal layaknya seorang pejuang yang gagah berani dan menolak mengubah keyakinan barunya. Tekad Sumayyah tidak pernah surut dan iman yang telah mengangkatnya kepada derajat wanita-wanita agung dan sabar tidak pernah melemah.
Penderitaan mulai berubah menjadi anugerah Allah, setelah Rasulullah saw. menyampaikan kabar gembira bahwa Sumayyah dan keluarganya akan meraih kenikmatan surga. Saat itulah, Ummu ‘Ammar, Sumayyah ra., berdiri tegak untuk menorehkan catatan paling bersejarah dengan darahnya, yakni menjadi orang pertama yang meraih syahaadah (mati syahid) dalam sejarah Islam. peristiwa ini terjadi ketika Abu Jahal – semoga Allah membalas kejahatannya dengan balasan yang setimpal – menyiksanya lalu menghujamkan tombak pendek pada tempat kehormatannya hingga meregang nyawa. Mujahid menyatakan, “Wanita pertama yang gugur sebagai syahid pada fase awal perkembangan Islam adalah Ummu ‘Ammar, Sumayyah. Abu Jahal menusuk qubul (kemaluannya) dengan tombak pendek”.
Peristiwa pembunuhan Sumayyah ra. ini terjadi pada tahun 7 Hijriah. Sumayyah merupakan contoh Muslimah yang bisa dijadikan teladan dalam hal kesabaran, pengorbanan dan ketabahan. Semoga Allah meridhai Sumayyah ra. dan menjadikannya ridha, serta menjadikan surga Firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya.
D.        Masa Modern
Feminisme “perjuangan hak-hak perempuan” telah membius sebagian umat Islam di dunia. Paham-paham feminism di dunia Islam boleh jadi sudah dikenal sejak awal abad ke 20, terbukti lewat pemikiran-pemikiran :
1.         Maryam Jamileeh
•           Biografi
Maryam Jameelah merupakan orang Yahudi Amerika , pada tanggal 23 mei 1934, di New Rochelle, New York.  Maryam Jameelah merupakan seorang Yahudi Reform yang bersifat liberal. Maryam Jameelah mengenal Islam melalui proses yang panjang, pada tahun 1961 ia menjadi seorang mualaf.
•           Tulisan-tulisan Maryam Jamileeh
1.         Islam and  Western Society
2.         Islam and Orientalis
3.         Islam in the Theory and Practice
4.         Islam in the Muslim Woman Today
Karya-karyanya jyang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia :
1.         Surat – menyurat Maryam Jameelah dengan Maududi
2.         Islam dalam kancah modernisasi
3.         Menjemput Islam
4.         Para Mujahid Agung
5.         Di tepi jalur Gaza : kisah pengungsih Palestina
6.         Islam dan Orientalisme
•           Pemikiran-pemikirannya
Pemikiran pembaharuan Maryam Jameelah dapat di golongkan menjadi tiga tema yaitu:
1.         Islam dan Modernisasi / Masyarakat Barat
      Menurut Jameelah, masa lalu bukan untuk dkritik atau dimodifikasi dengan cara subtantif tetapi secara menyeluruh dirangkul. Karena ia percaya bahwa keseluruhan tradisi islam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dirubah maupun dipisahkan. Maryam  Jameelah bersikap kritis terhadap usaha orang-orang yang menolak atau mereformasi interpretasi/ajaran atau institusi islam tradisional.
2.         Modernisasi dan Westernisasi
ü         Menurut Maryam Jameelah modernisasi dan westernisasi adalah sesat.
ü         Menurut Maryam bahwa modernnisasi berarti westernisasi dan di dalamnya ada evolusi, relativisme dan sekularisme. Dimana hal-hal tersebut menantang dan mengancam keyakinan Islam yang paling dasar.
ü         Bagi Maryam Jameelah, peradaban modern barat terlahir sebagai perpaduan antara ideology sekular Kristen dan nasionalisme sempit tradisi Yahudi, yang didasarkan pada kesejarahan Kristen dan imperialisme budaya dan politik tak  terpisahkan.
3.         Perempuan
ü         Dalam semua tulisan Maryam Jameelah mengenai Islam, ia berdiri di pihak ortodoks (tradisional)
ü         Maryam Jameelah menganggap kebiasaan–kebiasaan muslim talah mengakar tanpa pernah berubah pada dan diperintah oleh   Quran dan Sunah Nabi.
ü         Kebencian barat terhadap purdah disebabkan oleh sifat kontradiksi antara islam dan sekularisme barat dan khususnya “tingginya individualisme yang mendominasi masyarakat modern sampai tingkat dimana perzinahan dianggap tidak buruk sama sekali.
ü         Jameelah menolak mereka yang berusaha membebaskan perempuan dengan menghapuskan jilbab atau yang menganjurkan pendidikan campur pria perempuan, pemberian hak suara, kerja di luar rumah, dan partisipasi  perempuan di kehidupan publik sebagai penyebar suatu kemodernan.
ü         Maryam percaya peran seorang perempuan bukanlah kotak suara tetapi pemeliharaan rumah tangga dan keluarga, sedangkan para pria adalah aktor-aktor di panggung sejarah, fungsi perempuan adalah untuk menjadi pembantu pria yang tersembunyi dari pandangan umum dibalik layar.
4.      Beberapa kritikan Maryam Jameelah terhadap tokoh-tokoh pembaharu lainnya dikarenakan para tokoh tersebut berfikir apolojetik yang disebabkan oleh dua hal yaitu: penalaran seperti ini merupakan hasil dari kesalahpahaman dan kejahilannya tentang Islam; ataupun karena hasil alami dari mentalitas orang yang kalah sehingga secara buta mereka terima nilai budaya yang dominan sebagai kriteria tertinggi. Akibatnya, peradaban Barat telah menjadi juri penilai atas kelebihan dan "kesalahan" Islam, bukan sebaliknya.
ü  Sayyid Amir Ali, ia mengatakan bahwa bukunya The Spirit of Islam yang terkenal itu adalah sesungguhnya suatu “Semangat Kekafiran”.
ü  Maulana Abul Kalam Azad, seorang tokoh Universitas Islam  Aligarch, disebutnya sebagai pelopor nasionalisme dan sekularisme di India Muslim.
ü  Muhammad Abduh yang oleh kebanyakan kaum Muslim dipandang sebagai perintis kebangkitan Islam, dituduh Jameelah sebagai pembawa bencana besar kepada umat karena telah mengkompromikan ajaran-ajaran Islam dengan imperialisme Inggris, dan telah membuka lebar pintu Mesir untuk masuknya Westernisme.
ü  Maryam Jameelah mengkritik buku Reinterpretation of Islam karangan Asaf A. Fyzee. Maryam memperingatkan bahwa Islam akan mengalami nasib yang sama dengan Yudaisme bila pengikut-pengikut modernnya berusaha mengubah kepercayaan dan praktek-praktek keislaman.
ü  Kritik terhadap buku "Islam in Modern History" yang ditulis oleh Prof. Wilfred Cantwell Smith, Direktur Islamic Institute di McGill University, Montreal. Maryam menentang bagian demi bagian argumentasinya yang mengatakan bahwa sekularisme dan westernisme itu cocok dengan Islam dan bahwa "pembaharuan" Kemal Ataturk di Turki menawarkan model yang paling baik untuk ditiru oleh negara-negara Islam lainnya.
2.         Amina Wadud
•           Biografi
Amina Wadud lahir pada tanggal 25 September 1952 dengan nama Maria Teasley di kota Bethesda, Maryland. Ayahnya adalah seorang Methodist menteri dan ibunya keturunan dari budak Muslim Arab, Berber dan Afrika. Pada tahun 1972 ia mengucapkan syahadat dan menerima Islam dan pada tahun 1974 namanya resmi diubah menjadi Amina Wadud dipilih untuk mencerminkan afiliasi agamanya. Ia menerima gelar BS, dari The University of Pensylvania, antara tahun 1970 dan 1975. Dia menerima MA di Studi Timur Dekat dan gelar Ph.D dalam bahasa Arab dan Studi Islam dari University of Michigan pada tahun 1988. Selama kuliah, ia belajar Arab di Mesir di Universitas Amerika di Kairo, dilanjutkan dengan studi Al-Quran dan tafsir di Universitas Kairo, Mesir dan mengambil kursus di Filsafat di Universitas Al-Azhar
Amina Wadud adalah seorang feminis Islam, imam dan seorang feminis dengan, fokus progresif pada Al-Qur'an tafsir. Riset Amina Wadud mengenai wanita dalam Al-Qur’an muncul dalam suatu konteks historis yang erat kaitannya dengan wanita Afrika-Amerika dalam upaya memperjuangkan keadilan gender. Tujuan riset Amina Wadud adalah menentukan kriteria yang pasti untuk mengevaluasi sejauh mana posisi wanita dalam kultur muslim telah betul-betul menggambarkan maksud Islam mengenai wanita dalam masyarakat. Selain itu, tujuan spesifiknya adalah menunjukkan kemampuan penyesuaian pandangan dunia Al-Qur’an terhadap persoalan dan dunia wanita menurut konteks modern.
Amina Wadud menggunakan metode tafsir tauhid. Metode tafsir tauhid sebagai hermeneutika yang dalam risetnya ini, setiap ayat dianalisis: 1) menurut konteksnya; 2) menurut konteks pembahasan tentang topik yang sama dalam Al-Qur’an; 3) dari sudut bahasa dan struktur sintaksis yang sama yang digunakan di tempat lain dalam Al-Qur’an; 4) dari sudut prinsip Al-Qur’an yang menolaknya; 5) menurut konteks Weltanschauuung Al-Qur’an, atau pandangan dunianya.
Pemikiran Amina Wadud mulai dari penciptaan manusia sampai persaksian perempuan adalah untuk menentang sebagian sikap dan hasil penafsiran tentang wanita dan Al-Qur’an. Penafsiran yang mengabaikan prinsip keadilan, persamaan dan kemanusiaan yang lazim. Amina Wadud menganggap kesetaraan laki-laki dan wanita bukan berarti sama. Ia mengakui adanya perbedaan penting antara laki-laki dan wanita. Maksud kesetaraan menurutnya adalah bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama pada tataran etika agama, dan mempunyai tanggung jawab yang sama-sama signifikan pada tataran fungsi sosial.
3.         Fatima Mersianissi
•           Biografi
Fatima Mernissi lahir di Fez Maroko pada tahun 1940. “salah seorang feminis Arab-Muslim terkenal,” merupakan generasi pertama perempuan Maroko yang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Dia kuliah di Universitas Muhammad V di Rabat, kemudian melanjutkan pendidikannya untuk menerima gelar doktornya dalam bidang sosiologi di Amerika Serikat pada tahun 1973.
•           Karya dan pemikirannya
Karya Mernissi berasal dari pengalaman individu nya yang mendorong nya untuk melakukan riset historis tentang berbagai hal yang sudah mengganggu pemahaman religius nya. Sebagai contoh, di buku nya The Veil and Male Elite yang kemudian ia revisi kembali menjadi Women and Islam: A Historical and Theological Enquir (Wanita-Wanita Dan Islam: Suatu Enquir mengenai agama Dan histories), penyelidikan nya tentang teks Alqur'an yang suci dan Haditss didasarkan pada pengalaman individu nya, perihal kejadian kasus Haditss pembenci wanita yang menyamakan posisi seorang wanita dengan anjing dan keledai itu .
Saat dia mendengar tentang Haditss mengenai kepemimpinan wanita. Motivasi nya untuk menyelidiki Haditss semacam itu dengan serius dipicu oleh Haditss yang diucapkan oleh seorang pedagang di pasar yang menafikan kepemimpinan wanita. Dikejutkan oleh pertanyaan nya, pedagang itu mengutip Haditss yang mengatakan bahwa " tidak ada keselamatan di dalam masyarakat yang dipimpin oleh wanita." Bagi nya, hal ini menandakan bahwa Haditss-haditss di alamatkan kepada komunitas masyarakat muslim dan oleh karena itu kepemimpinan wanita masih dapat dibantah/ diperdebatkan di samping kasus Benazir Buttho yang menjadi perdana menteri Pakistan dan di samping fakta bahwa Alqur'an membahas kepemimpinan Ratu Bilqis.
consern dengan perihal lain: hijab. Topik hijab telah mendominasi karier intelektual nya. Hijab, adalah sebuah instrumen pembatasan, pemisahan dan pengasingan yang digunakan untuk menjaga wanita-wanita ke luar dari area publik. Baginya, Hijab berarti pemisahan dan digunakan sebagai suatu medium pernyataan heirarchy antara para penguasa dan masyarakat.
Dia mengkomunikasikan pemahaman nya melalui penafsiran Alqur'an dan Haditss dan melalui riset historis dan analisa kemasyarakatan. Gol nya adalah untuk menyampaikan sebuah penafsiran alternatif melalui bukunya The Forgotten Queen in Islam (Ratu yang terlupakan dalam Islam) dan Islam and Democracy (Islam dan Demokrasi). Di dalam karya-karyanya ini dia mencoba untuk menunjukkan bahwa cacat di dalam Pemerintah Arab tidaklah inheren (yang tidak bisa dipisahkan) dengan pengajaran religius, tetapi ada kaitannya dengan manipulasi pengajaran religius para penguasa untuk kepentingan mereka sendiri. Meskipun demikian, Mernissi mempertahankan Negara-Negara Arab ketika mereka difitnah oleh pers barat ( lihat Islam Dan Demokrasi p. 26).
Dalam kebanyakan karya nya, dia mencoba untuk menggambarkan bahwa pengajaran religius dapat dengan mudah digerakkan dan untuk alasan itu, dia percaya bahwa tekanan (kepada) perempuan bukanlah bagian dari pengajaran Islam yang sesungguhnya. Itulah mengapa dia hati-hati untuk tidak menentang tradisi suci. Kebanyakan dari artikel nya mengenai perempuan menyatakan masalah-masalah ini. Kita dapat lihat ini, sebagai contoh, di dalam buku nya Rebellion's Women and Islamic Memory (Pemberontakan para Wanita Dan Memori Islam), ( London& New Jersey: Zed Buku, 1996).
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar