Membincangkan peran gerakan muslimah dalam kebangkitan umat seakan membuka
kembali catatan sejarah panjang perjuangan Islam. Sebagaimana diketahui, sejak
Rasulullah Saw di utus untuk menyebarluaskan risalah Islam, para muslimah
generasi awal telah terlibat aktif dalam pergerakan dakwah bersama kaum
muslimin lainnya untuk melakukan transformasi social, mengubah masyarakat
jahiliyah yang paganistik menjadi masyarakat Islam yang Rabbani.
Sejarah
mencatat nama-nama besar dari masa Nabi Saw., masa Khulafaurasyiddin, hingga
masa modern. Nama-nama tersebut adalah Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq,
Fatimah az-Zahra, Sumayyah binti Khatbath, Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin
‘Ushayyah As-Sulamiyah, Mariam Jamileeh, Amina Wadud, Fatima
Mersianissi. Tak satupun dari mereka yang ingin—meski sejenak—tertinggal dari
satu peristiwa pun, apalagi berlepas diri dari tanggung jawab memperjuangkan
dienul haq.
Karenanya
tak berlebih jika dikatakan bahwa merekalah pelopor dan peletak dasar
pilar-pilar pergerakan muslimah yang hakiki, yang layak menjadi teladan
pergerakan muslimah dari zaman ke zaman. Di atas pilar-pilar inilah muslimah
generasi sesudah mereka membangun kekuatan. Hanya saja yang menjadi target
perjuangan mereka tentu bukan lagi menegakkan system kehidupan Islam, melainkan
bagaimana berupaya mempertahankan eksistensinya agar kemuliaan umat tetap
terjaga. Akan tetapi uniknya, pada saat yang sama, merekapun ternyata berhasil
mencetak generasi terbaik—generasi mujahid dan mustahid—yang mampu membangun
peradaban Islam yang tinggi, yang mengalahkan peradaban-peradaban lainnya di
dunia dalam rentang waktu yang sangat panjang. Tak heran jika umat Islam pada
rentang tersebut betul-betul bisa tampil sebagai “khoiruummah”
A. Masa Awal
Peradaban Islam (Periode Nabi dan Khulafaurrasyidin)
1. Aisyah
binti Abu Bakar ash-Shiddiq
Perempuan yang lurus dan benar. Ia dipanggil Ummul Mu’minin dan diberi
kunyah Ummu Abdillah. Ada yang menyebutkan bahwa nama
panggilannya Humaira. tetapi Rasulullah Saw, lebih sering memanggilnya
Bintush-Shiddiq. Ayah Aisyah adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.
Ibunya bernama Ummu Ruman. Ibnu Sa’ada mengatakan bahwa Aisyah
dilahirkan pada awal tahun ke-4 setelah Muhammad diangkat menjadi rasul dan
dinikahi Rasulullah Saw, 10 tahun kemudian.
Prestasi Intelektual Aisyah sangat menonjol di kalangan kaum perempuan. Bahkan,
tidak berlebihan jika kita katakan bahwa kecerdasan, pemahaman, dan kekuatan
pemikiran Aisyah berada di atas orang-orang yang hidup sezaman dengannya, baik
laki-laki ataupun perempuan. Meskipun Aisyah masih berada dalam usia yang
relatif muda ketika itu, ia tidak pernah membuang kesempatan untuk belajar. Ia
masih suka bermain dengan teman sebayanya, namun tidak ada ajaran islam
yang disia-siakan.
Intelektual Aisyah R.a:
Aisyah
memahami makna setiap Al-Qur’an, menentukan batas kandungannya, mengetahui
perbedaan al-ahruf as-sab’ah “huruf yang tujuh, serta mengerti bagaimana
menarik kesimpulan hukum darinya.
Aisyah merupakan perempuan yang banyak meriwayatkan
hadis, ia meriwayatkan 2210 hadis. Aisyah terkenal sangat teliti dan
berul-betul memahami apa yang ia riwayatkan.
Ia
menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber hukum pertama, Sunnah sebagai sumber hukum
kedua, dan Qiyas menempati posisi ketiga.
Selain itu
pengetahuan Aisyah r.a dalam bidang Tauhid dan Aqidah pun tidak diragukan.
2. Tumadhar
binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah
Al-Khansa’, namun nama sebenarnya adalah Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin
‘Ushayyah As-Sulamiyah. Al Khansa’ merupakan seorang sahabat wanita yang mulia
dan sangat terkenal sebagai penyair.
Al-Khansa’ wanita yang bijaksana dan cerdas. Semua orang mengetahui kedudukan
dan keahliannya yang luar biasa dalam berpuisi. Bahkan, semua sastrawan sepakat
bahwa tidak ada wanita yang memiliki kekuatan puisi yang lebih hebat dari
Al-Khansa’, baik di masa lalu maupun masa berikutnya. Selain mahir berpuisi,
sebenarnya Al-Khansa’ juga memiliki kepribadian yang sangat kuat, akhlak mulia,
pandangan yang tajam, sabar dan berani.
Pengorbanannya yang begitu tulus ketika ia harus ditinggalkan oleh keempat
putranya dalam keadaan mati Syahid. Namun ketika mendengar kabar itu semua ia
berusaha tetap tegar dan sabar dalam menerimanya. Semua itu dapat ia lakukan
karena Islam yang selalu menguatkannya.
3. Fatimah
az-Zahra
Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah
Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah
peristiwa Isra' dan Mikraj beliau. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir,
di kota suci Makkah.
Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang
yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah
menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam
ucapan dan pikirannya.
Ketika ia mulai beranjak dewasa, tiba saatnya ia beranjak pindah ke pelaminan.
Ia menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Sepanjang perjalanan hidupnya, keluarga
Ali bin Abi Thalib dikatakan sebagai keluarga teladan. Kehidupan Ali dan
Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia.
Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya.
Begitu pula
sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali,
serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya. Kehidupan keluarga
dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.
Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan
dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap
kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang
paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki
ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita
Alam Semesta.
Beliau
adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia
senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat
menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta
menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram
bahagia di dalamnya.
B.
Masa Kekhalifahan Islam
Sultanah
Mamluk (Radhiyyah dan Syajarat al-Durr)
Karir mereka dimulai pada waktu yang hampir sama. Radhiyyah memegang keskuasaan
didelhi tahun 634/1236 dan syahjarat menaiki tahta mesir 14 tahun kemudian pada
648/1250. Mereka berdua meraih tahta berkat kekuatan militer bangsa maluk yaitu
bekas budak-budak turki yang sealama berabad-abad mengabdi di istana yang telah
memperbudak mereka. Namun pada akhirnya berhasil menggantikan para majikan
mereka. Radhiyyha berhasil meraih tahta yahnya, sultan Iltutmisy, raja delhi,
dan syahjarat al-Durr megambil alih tahata dari suaminya, amlik al-Shalaehn dan
penguasa Ayyubiyah terakhir.
Raddiyyah
menaiki tangga menuju kekuasaan dalam keadaanyang sangat berbeda. Tidak
seperti syahjarat al-Dur, dia bukanlah budak namun putri sultan.ayahnya tiba di
India sebagai budak dan kebangkitannya sehinggas smenjadi sultan merupakan
propaganda yang sangat bagus bagi islam.
Khotu
Mongol
Sebagaimana
yang didokumnetasikan dengan baik oleh sejarah Badriye Ucok Un, setelah
serangan mongol takhta negeri-negeri muslim dikuasai oeh wanita dalam jumlah
yang mengesankan dengan hak-hak istimewadalam khutbah dan pendcetakan mata
uang.dalam hamoir setiap kasus ini terjadi berkat para pengusa abru, yaitu
pangeran-pangeran mongol. Memang benar bahwa yang disebut terakhir itu tampak
lebih mendapatkan masalah dibandingkan dengan para khlaifah Abbasiyyah dalam
mempercayakan pemerintahan negara kepada kaun wanita. Pertama-tama adalah ratu
dari dinasti Kutlugh-Khanidm kutlugh Katun (juga dinamakan Turkan Katun dalam
dokumen-dokumen) dan putrinyapadsiya Khatun (yang kadang-kadang namanya kita
ketahui sebagai Safwat al-Din Khatun. Dalam abad tiga belas dan keempat belas
dinasti kutlugh-kHanid memerintah Karman, sebuah propinsi persia yang terletak
disebelah barat daya grun besar, dasyt i-lut.
Para Ratu
Kepulauan (Khadijah)
Tujuh irang
sultanah memerintah wilayah Hindia tiga dimaladewa dan empat di Indonesia. Yang
pertama sultanahKhadijah putri sultan shalah al-Din shalih al-Bendjali,
emerintah dari 1347-1379. Berikut adalah pemarpran Ibn Batutah tehadap
Khadijah. “ para wanita ini tidak pernah meninggalkan negeri merka dan aku
belum pernah melihat wanita lebih menyenangkan ditempat lain manapun didunia
ini. Seseorang wanita ini tidak menyerahkan kepada orang lain lain mengenai
kepercayaan atas suaminya.
Meskipun ada
ketentuan-ketentuan mekkah tentang khalifah dan opurtunisme dari pelaku
politik, beberapa perepuan telah sah memegang kekuasaan, menaiki tahta dari
abad 13-17.dua yang pertama Radhiyyah dan syahjarat al-Dur adalah wanita pada
masa dinasti Mamluk dan enam sultan merupakan pengganti imeprium abbasiyah dan
yang terakhir adalah sultanah diindonesia dan maladewa.
C.
Masa Kejatuhan kekhalifah
Sumayyah
binti Khatbath r.a
Wanita Pertama yang Menyatakan
Keislamannya Secara Terbuka
Sumayyah ra. adalah orang yang
pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka dan menerima penyiksaan
dengan tabah demi tetap bertahan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Dia berada di
garis depan wanita-wanita mukmin yang tulus dan segera menerima Islam, sehingga
meraih kehormatan sebagai orang-orang pertama yang masuk Islam dan mendapat
kabar gembira yakni masuk surga.
Ibnu Abdul Barr rahimahullah
menyanjung Sumayyah dan menyebut kesabaran dan ketegarannya. Ia menyatakan,
“Sumayyah termasuk golongan para sahabat yang mengalami penyiksaan di jalan
Allah dan sabar terhadap penderitaan yang menimpanya. Dia termasuk wanita yang
berbai’at, baik dan mulia. Semoga Allah mengasihinya”.
Abdullah menuturkan, “Ada tujuh
orang yang pertama-tama menyatakan keislamannya secara terbuka, Rasulullah
saw., Abu Bakar, ‘Ammar, Ibu ‘Ammar (Sumayyah), Shuhaib, Bilal dan Miqdad.
Rasulullah saw. dilindungi oleh Allah sawt. melalui pamannya, dan Abu Bakar ra.
dilindungi oleh Allah swt. melalui kaumnya, sedangkan lima orang lainnya
eisiksa oleh orang-orang musyrik. Orang-orang musyrik memaksa mereka memakai
baju besi lalu membiarkan tubuh mereka terpanggang oleh sinar matahari. Mereka
semua tidak berdaya sehingga mengikuti apa yang diinginkan oleh orang-orang musyrik
itu, kecuali Bilal. Dia merasa siksaan itu masih terlalu ringan, selama
menjalaninya karena Allah. Dia tidak menghiraukan siksaan yang dilakukan oleh
kaumnya, sehingga mereka menyerahkan Bilal kepada anak-anak yang menyeretnya di
sepanjang jalan kota Makkah. Sementara Bilal terus mengucapkan, “Ahad… Ahad…
(Allah yang maha Esa)”.
Orang-orang terus menyiksa Sumayyah,
suaminya Yasir dan putranya ‘Ammar (semoga Allah meridhai mereka bertiga).
Tapi, mereka menerimanya dengan tabah dan tegar karena yakin bahwa siksaan itu
diterima karena mereka bertahan di jalan Allah swt.
Pada suatu hari, Rasulullah saw.
lewat dan melihat mereka sedang disiksa. Beliau bersabda, “Berbahagialah, wahai
keluarga ‘Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuka surga”.
Semilir angin surge telah menerpa hati mereka hingga menyejukkan bara
penyiksaan yang sedang mereka rasakan.
Saat itulah, mereka mlai merasa
lebih tenang dan nyaman daripada rasa payah karena siksaan yang mereka terima.
Mereka menikmati penyiksaan karena bertahan di jalan Allah swt. dan terus
merindukan kenikmatan surga sepanjang siang dan malam.
Muslimah Pertama yang Mati Syahid
Abu jahal merupakan orang yang
berperan besar dalam menggalang orang-orang Quraisy untuk menyiksa kaum
muslimin yang lemah itu. Jika dia mendengar seseorang yang cukup terpandang dan
kuat telah masuk Islam, maka dia akan mengecam dan menghinanya. Dia berkata,
“Engkau telah meninggalkan agama orang tuamu sendiri padahal itu lebih baik
darimu. Kami akan menghinamu, memandang sebelah mata pendapatmu, dan
menjatuhkan kehormatanmu”. Namun. Jika yang masuk islam tersebut seorang
pedagang, maka Abu Jahal akan berkata padanya, “Kami akan mempersempit peluang
dagangmu dan menghancurkan kejayaanmu”. Sedangkan jika yang masuk Islam adalah
orang lemah atau miskin, maka dia langsung memukulinya dan menggalang
orang-orang Quraisy untuk memusuhinya. Semoga Allah melaknat dan
merendahkannya.
Sementara Sumayyah ra., sahabat
Rasulullah saw. yang agung, tetap tegar dalam menerima siksaan yang tidak pernah
berhenti. Ia sabar terhadap intimidasi yang dilakukan oleh Abu Jahal layaknya
seorang pejuang yang gagah berani dan menolak mengubah keyakinan barunya. Tekad
Sumayyah tidak pernah surut dan iman yang telah mengangkatnya kepada derajat
wanita-wanita agung dan sabar tidak pernah melemah.
Penderitaan mulai berubah menjadi
anugerah Allah, setelah Rasulullah saw. menyampaikan kabar gembira bahwa
Sumayyah dan keluarganya akan meraih kenikmatan surga. Saat itulah, Ummu
‘Ammar, Sumayyah ra., berdiri tegak untuk menorehkan catatan paling bersejarah
dengan darahnya, yakni menjadi orang pertama yang meraih syahaadah (mati
syahid) dalam sejarah Islam. peristiwa ini terjadi ketika Abu Jahal – semoga
Allah membalas kejahatannya dengan balasan yang setimpal – menyiksanya lalu
menghujamkan tombak pendek pada tempat kehormatannya hingga meregang nyawa.
Mujahid menyatakan, “Wanita pertama yang gugur sebagai syahid pada fase awal
perkembangan Islam adalah Ummu ‘Ammar, Sumayyah. Abu Jahal menusuk qubul
(kemaluannya) dengan tombak pendek”.
Peristiwa pembunuhan Sumayyah ra.
ini terjadi pada tahun 7 Hijriah. Sumayyah merupakan contoh Muslimah yang bisa
dijadikan teladan dalam hal kesabaran, pengorbanan dan ketabahan. Semoga Allah
meridhai Sumayyah ra. dan menjadikannya ridha, serta menjadikan surga Firdaus
sebagai tempat persinggahan terakhirnya.
D.
Masa Modern
Feminisme
“perjuangan hak-hak perempuan” telah membius sebagian umat Islam di dunia.
Paham-paham feminism di dunia Islam boleh jadi sudah dikenal sejak awal abad ke
20, terbukti lewat pemikiran-pemikiran :
1.
Maryam Jamileeh
•
Biografi
Maryam
Jameelah merupakan orang Yahudi Amerika , pada tanggal 23 mei 1934, di New
Rochelle, New York.
Maryam Jameelah merupakan seorang Yahudi Reform yang bersifat liberal. Maryam
Jameelah mengenal Islam melalui proses yang panjang, pada tahun 1961 ia menjadi
seorang mualaf.
•
Tulisan-tulisan Maryam Jamileeh
1.
Islam and Western Society
2.
Islam and Orientalis
3.
Islam in the Theory and Practice
4.
Islam in the Muslim Woman Today
Karya-karyanya jyang diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia :
1.
Surat – menyurat Maryam Jameelah dengan Maududi
2.
Islam dalam kancah modernisasi
3.
Menjemput Islam
4.
Para Mujahid Agung
5. Di
tepi jalur Gaza : kisah pengungsih Palestina
6.
Islam dan Orientalisme
•
Pemikiran-pemikirannya
Pemikiran pembaharuan Maryam Jameelah dapat di
golongkan menjadi tiga tema yaitu:
1.
Islam dan Modernisasi / Masyarakat Barat
Menurut Jameelah, masa
lalu bukan untuk dkritik atau dimodifikasi dengan cara subtantif tetapi secara
menyeluruh dirangkul. Karena ia percaya bahwa keseluruhan tradisi islam adalah
satu kesatuan yang tidak dapat dirubah maupun dipisahkan. Maryam Jameelah
bersikap kritis terhadap usaha orang-orang yang menolak atau mereformasi
interpretasi/ajaran atau institusi islam tradisional.
2.
Modernisasi dan Westernisasi
ü
Menurut Maryam Jameelah modernisasi dan westernisasi adalah sesat.
ü
Menurut Maryam bahwa modernnisasi berarti westernisasi dan di dalamnya ada
evolusi, relativisme dan sekularisme. Dimana hal-hal tersebut menantang dan
mengancam keyakinan Islam yang paling dasar.
ü
Bagi Maryam Jameelah, peradaban modern barat terlahir sebagai perpaduan antara
ideology sekular Kristen dan nasionalisme sempit tradisi Yahudi, yang
didasarkan pada kesejarahan Kristen dan imperialisme budaya dan politik
tak terpisahkan.
3.
Perempuan
ü
Dalam semua tulisan Maryam Jameelah mengenai Islam, ia berdiri di pihak
ortodoks (tradisional)
ü
Maryam Jameelah menganggap kebiasaan–kebiasaan muslim talah mengakar tanpa
pernah berubah pada dan diperintah oleh Quran dan Sunah Nabi.
ü
Kebencian barat terhadap purdah disebabkan oleh sifat kontradiksi antara islam
dan sekularisme barat dan khususnya “tingginya individualisme yang mendominasi
masyarakat modern sampai tingkat dimana perzinahan dianggap tidak buruk sama
sekali.
ü
Jameelah menolak mereka yang berusaha membebaskan perempuan dengan menghapuskan
jilbab atau yang menganjurkan pendidikan campur pria perempuan, pemberian hak
suara, kerja di luar rumah, dan partisipasi perempuan di kehidupan publik
sebagai penyebar suatu kemodernan.
ü
Maryam percaya peran seorang perempuan bukanlah kotak suara tetapi pemeliharaan
rumah tangga dan keluarga, sedangkan para pria adalah aktor-aktor di panggung
sejarah, fungsi perempuan adalah untuk menjadi pembantu pria yang tersembunyi
dari pandangan umum dibalik layar.
4. Beberapa kritikan
Maryam Jameelah terhadap tokoh-tokoh pembaharu lainnya dikarenakan para tokoh
tersebut berfikir apolojetik yang disebabkan oleh dua hal yaitu: penalaran
seperti ini merupakan hasil dari kesalahpahaman dan kejahilannya tentang Islam;
ataupun karena hasil alami dari mentalitas orang yang kalah sehingga secara
buta mereka terima nilai budaya yang dominan sebagai kriteria tertinggi.
Akibatnya, peradaban Barat telah menjadi juri penilai atas kelebihan dan
"kesalahan" Islam, bukan sebaliknya.
ü
Sayyid Amir Ali, ia mengatakan bahwa bukunya The Spirit of Islam yang terkenal
itu adalah sesungguhnya suatu “Semangat Kekafiran”.
ü
Maulana Abul Kalam Azad, seorang tokoh Universitas Islam Aligarch,
disebutnya sebagai pelopor nasionalisme dan sekularisme di India Muslim.
ü
Muhammad Abduh yang oleh kebanyakan kaum Muslim dipandang sebagai perintis
kebangkitan Islam, dituduh Jameelah sebagai pembawa bencana besar kepada umat
karena telah mengkompromikan ajaran-ajaran Islam dengan imperialisme Inggris,
dan telah membuka lebar pintu Mesir untuk masuknya Westernisme.
ü
Maryam Jameelah mengkritik buku Reinterpretation of Islam karangan Asaf A.
Fyzee. Maryam memperingatkan bahwa Islam akan mengalami nasib yang sama dengan
Yudaisme bila pengikut-pengikut modernnya berusaha mengubah kepercayaan dan
praktek-praktek keislaman.
ü
Kritik terhadap buku "Islam in Modern History" yang ditulis oleh
Prof. Wilfred Cantwell Smith, Direktur Islamic Institute di McGill University,
Montreal. Maryam menentang bagian demi bagian argumentasinya yang mengatakan
bahwa sekularisme dan westernisme itu cocok dengan Islam dan bahwa
"pembaharuan" Kemal Ataturk di Turki menawarkan model yang paling
baik untuk ditiru oleh negara-negara Islam lainnya.
2.
Amina Wadud
•
Biografi
Amina Wadud lahir pada tanggal 25 September 1952
dengan nama Maria Teasley di kota Bethesda, Maryland. Ayahnya adalah seorang
Methodist menteri dan ibunya keturunan dari budak Muslim Arab, Berber dan
Afrika. Pada tahun 1972 ia mengucapkan syahadat dan menerima Islam dan pada
tahun 1974 namanya resmi diubah menjadi Amina Wadud dipilih untuk mencerminkan
afiliasi agamanya. Ia menerima gelar BS, dari The University of Pensylvania,
antara tahun 1970 dan 1975. Dia menerima MA di Studi Timur Dekat dan gelar Ph.D
dalam bahasa Arab dan Studi Islam dari University of Michigan pada tahun 1988.
Selama kuliah, ia belajar Arab di Mesir di Universitas Amerika di Kairo,
dilanjutkan dengan studi Al-Quran dan tafsir di Universitas Kairo, Mesir dan
mengambil kursus di Filsafat di Universitas Al-Azhar
Amina Wadud adalah seorang feminis Islam, imam dan
seorang feminis dengan, fokus progresif pada Al-Qur'an tafsir. Riset Amina
Wadud mengenai wanita dalam Al-Qur’an muncul dalam suatu konteks historis yang
erat kaitannya dengan wanita Afrika-Amerika dalam upaya memperjuangkan keadilan
gender. Tujuan riset Amina Wadud adalah menentukan kriteria yang pasti untuk
mengevaluasi sejauh mana posisi wanita dalam kultur muslim telah betul-betul
menggambarkan maksud Islam mengenai wanita dalam masyarakat. Selain itu, tujuan
spesifiknya adalah menunjukkan kemampuan penyesuaian pandangan dunia Al-Qur’an terhadap
persoalan dan dunia wanita menurut konteks modern.
Amina Wadud menggunakan metode tafsir tauhid. Metode
tafsir tauhid sebagai hermeneutika yang dalam risetnya ini, setiap ayat
dianalisis: 1) menurut konteksnya; 2) menurut konteks pembahasan tentang topik
yang sama dalam Al-Qur’an; 3) dari sudut bahasa dan struktur sintaksis yang
sama yang digunakan di tempat lain dalam Al-Qur’an; 4) dari sudut prinsip
Al-Qur’an yang menolaknya; 5) menurut konteks Weltanschauuung Al-Qur’an, atau
pandangan dunianya.
Pemikiran Amina Wadud mulai dari penciptaan manusia
sampai persaksian perempuan adalah untuk menentang sebagian sikap dan hasil
penafsiran tentang wanita dan Al-Qur’an. Penafsiran yang mengabaikan prinsip
keadilan, persamaan dan kemanusiaan yang lazim. Amina Wadud menganggap
kesetaraan laki-laki dan wanita bukan berarti sama. Ia mengakui adanya
perbedaan penting antara laki-laki dan wanita. Maksud kesetaraan menurutnya
adalah bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama pada
tataran etika agama, dan mempunyai tanggung jawab yang sama-sama signifikan
pada tataran fungsi sosial.
3.
Fatima Mersianissi
•
Biografi
Fatima Mernissi lahir di Fez Maroko pada tahun 1940.
“salah seorang feminis Arab-Muslim terkenal,” merupakan generasi pertama
perempuan Maroko yang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Dia
kuliah di Universitas Muhammad V di Rabat, kemudian melanjutkan pendidikannya
untuk menerima gelar doktornya dalam bidang sosiologi di Amerika Serikat pada
tahun 1973.
•
Karya dan pemikirannya
Karya Mernissi berasal dari pengalaman individu nya
yang mendorong nya untuk melakukan riset historis tentang berbagai hal yang
sudah mengganggu pemahaman religius nya. Sebagai contoh, di buku nya The Veil
and Male Elite yang kemudian ia revisi kembali menjadi Women and Islam: A
Historical and Theological Enquir (Wanita-Wanita Dan Islam: Suatu Enquir
mengenai agama Dan histories), penyelidikan nya tentang teks Alqur'an yang suci
dan Haditss didasarkan pada pengalaman individu nya, perihal kejadian kasus
Haditss pembenci wanita yang menyamakan posisi seorang wanita dengan anjing dan
keledai itu .
Saat dia mendengar tentang Haditss mengenai
kepemimpinan wanita. Motivasi nya untuk menyelidiki Haditss semacam itu dengan
serius dipicu oleh Haditss yang diucapkan oleh seorang pedagang di pasar yang
menafikan kepemimpinan wanita. Dikejutkan oleh pertanyaan nya, pedagang itu
mengutip Haditss yang mengatakan bahwa " tidak ada keselamatan di dalam
masyarakat yang dipimpin oleh wanita." Bagi nya, hal ini menandakan bahwa
Haditss-haditss di alamatkan kepada komunitas masyarakat muslim dan oleh karena
itu kepemimpinan wanita masih dapat dibantah/ diperdebatkan di samping kasus
Benazir Buttho yang menjadi perdana menteri Pakistan dan di samping fakta bahwa
Alqur'an membahas kepemimpinan Ratu Bilqis.
consern dengan perihal lain: hijab. Topik hijab telah
mendominasi karier intelektual nya. Hijab, adalah sebuah instrumen pembatasan,
pemisahan dan pengasingan yang digunakan untuk menjaga wanita-wanita ke luar
dari area publik. Baginya, Hijab berarti pemisahan dan digunakan sebagai suatu
medium pernyataan heirarchy antara para penguasa dan masyarakat.
Dia mengkomunikasikan pemahaman nya melalui penafsiran
Alqur'an dan Haditss dan melalui riset historis dan analisa kemasyarakatan. Gol
nya adalah untuk menyampaikan sebuah penafsiran alternatif melalui bukunya The
Forgotten Queen in Islam (Ratu yang terlupakan dalam Islam) dan Islam and
Democracy (Islam dan Demokrasi). Di dalam karya-karyanya ini dia mencoba untuk
menunjukkan bahwa cacat di dalam Pemerintah Arab tidaklah inheren (yang tidak
bisa dipisahkan) dengan pengajaran religius, tetapi ada kaitannya dengan
manipulasi pengajaran religius para penguasa untuk kepentingan mereka sendiri.
Meskipun demikian, Mernissi mempertahankan Negara-Negara Arab ketika mereka
difitnah oleh pers barat ( lihat Islam Dan Demokrasi p. 26).
Dalam kebanyakan karya nya, dia mencoba untuk
menggambarkan bahwa pengajaran religius dapat dengan mudah digerakkan dan untuk
alasan itu, dia percaya bahwa tekanan (kepada) perempuan bukanlah bagian dari
pengajaran Islam yang sesungguhnya. Itulah mengapa dia hati-hati untuk tidak
menentang tradisi suci. Kebanyakan dari artikel nya mengenai perempuan
menyatakan masalah-masalah ini. Kita dapat lihat ini, sebagai contoh, di dalam
buku nya Rebellion's Women and Islamic Memory (Pemberontakan para Wanita Dan
Memori Islam), ( London& New Jersey: Zed Buku, 1996).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar